Menjadi Dewasa dan Berdampak dalam Iman: Live In Cadi & Hari Doa Sedunia 2025

Waru, 23 Maret 2025 – Dua peristiwa penting mewarnai perjalanan iman jemaat GKJW Waru pada Maret 2025. Live In Cadi 2025 yang berlangsung pada 21-23 Maret di GKJW Aditoya serta Ibadah Hari Doa Sedunia pada 23 Maret di GKJW Waru menjadi momentum bagi jemaat, khususnya anak-anak muda, untuk bertumbuh dalam kedewasaan iman dan memberikan dampak nyata bagi sesama.

Live In Cadi yang diikuti oleh 25 calon sidi mengusung tema “Menjadi Dewasa dan Berdampak” berdasarkan Efesus 4:13-16. Kegiatan ini bertujuan menanamkan nilai kedewasaan rohani serta memperkuat konsep patuwen atau persaudaraan antarjemaat GKJW. Selama tiga hari dua malam, seluruh warga GKJW Aditoya dengan antusias menyambut para peserta. Sebanyak 10 orang tua asuh turut serta menerima dan mendampingi para calon sidi dalam proses pembelajaran iman dan pelayanan. Sesi pembinaan diisi oleh dua pemateri, yaitu Pdt. Kristanto dari GKJW Waru dan Pdt. Wawuk Kristian Wijaya dari GKJW Aditoya. Dalam pembinaan tersebut, para peserta diajak memahami bahwa kedewasaan iman bukan hanya tentang pengetahuan rohani, tetapi juga tentang tindakan nyata dalam kasih dan pelayanan. Sebagai wujud nyata dari tema yang diusung, para calon sidi melaksanakan berbagai kegiatan bakti sosial. Mereka mengunjungi dan mendoakan warga serta membantu pemeriksaan kesehatan. Selain itu, mereka berbagi takjil ke empat musholla di dusun tetangga sebagai wujud kepedulian dan persaudaraan antarumat beragama. Tak hanya itu, mereka juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternak milik warga, menunjukkan bahwa kepedulian seorang Kristen juga mencakup kesejahteraan lingkungan sekitar.

Sementara itu, Ibadah Hari Doa Sedunia di GKJW Waru berlangsung penuh sukacita dengan melibatkan anak-anak dari berbagai jenjang, mulai dari Balita hingga Remaja, serta KPPW. Dengan tema “Aku Menjadikanmu Istimewa” yang dikupas oleh Vikar Tri Rahayu, ibadah ini menyoroti Mazmur 139:13-16, yang menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan istimewa oleh Tuhan. Dalam ibadah ini, anak-anak mengenakan mahkota atau kalung bunga sebagai bentuk doa bagi saudara-saudari di Selandia Baru yang tengah menghadapi kemiskinan dan kelaparan.

Dua peristiwa ini menegaskan bahwa pertumbuhan iman tidak hanya tentang pengajaran, tetapi juga tentang aksi nyata dalam kasih dan pelayanan, sehingga setiap pribadi dapat menjadi terang dan garam bagi dunia.