PEMAHAMAN ALKITAB
JANUARI I
Bacaan : Yesaya 48 : 12 – 22
Tema Liturgis : Keselamatan Untuk Seluruh Ciptaan
Tujuan PA : Ketika pikiran orang Kristen menyelami alam semesta, hatinya akan bersyukur kepada Allah dalam ibadah dan kidung pujian
Pengantar
Ada banyak orang yang mengaku sebagai umat Allah dan berjanji dalam nama-Nya, tetapi sikap dan perbuatannya tidak menunjukkan bahwa mereka betul-betul adalah umat Allah yang terpilih. Hal ini dapat terjadi diakibatkan situasi dan kondisi yang mereka alami: 1) Penderitaan yang terus-menerus dapat membuat seseorang putus asa dan kehilangan harapan atau idealisme hidup. 2) kemapanan atau kenyamanan hidup yang membuat keengganan untuk memulai sesuatu yang baru. Akhirnya mereka tidak lagi bersemangat untuk berpartisipasi mewujudkan apa yang menjadi rencana dan janji-janji Allah atas dunia seperti tekad semula sebagai umat Allah.
Mereka mendengar firman Allah, apa yang dijanjikan, dan apa yang harus mereka lakukan, tetapi mereka keras kepala menolak, dan menyimpulkan bahwa itu diperuntukkan bagi orang lain. Dan yang sangat disayangkan, mereka akhirnya gagal memenuhi rencana Allah dalam hidup mereka; mereka tidak menyadari arti dari “umat Allah” yang terlibat secara aktif dalam karya penyelamatan Allah atas dunia.
Penjelasan Teks Yesaya 48
Nabi menyampaikan firman Tuhan kepada orang-orang Israel di Pembuangan Babel yang sedemikian keras kepala mengabaikan panggilan Tuhan. Banyak dari mereka merasa sudah nyaman/mapan tinggal di Babel dengan segala adat istiadat dan budaya di sana, bahkan ikut-ikutan menyembah berhala dan tidak lagi memiliki keinginan bergerak (kembali pulang) ke tanah Israel serta mempraktekkan kembali ibadat yang benar sebagai umat Allah. Nabi Yesaya menegur mereka yang sudah tidak lagi hidup sesuai dengan perintah Allah, kehilangan semangat dan jati diri menjadi alat/saksi Tuhan Allah untuk memenuhi rencananya atas dunia dan juga akhirnya kehilangan berkat-berkat yang sedianya dipeuntukkkan bagi mereka (18-19). Ia pun juga menguatkan mereka yang lemah iman supaya kembali percaya kepada janji-janji Tuhan yang segera akan dilaksanakan. Mereka semua harus bertobat dan memperbaharui komitmen iman mereka atas panggilan Tuhan Allah. Ia tetap setia dan bersabar (menahan marah), demi firman dan karya-Nya digenapi. Melalui peristiwa sejarah mulai dari penciptaan dan sampai peristiwa di panggung politik dunia yang terjadi saat ini Allah menunjukkan kedaulatan/otoritas-Nya (bdk maz 33:9). Dibentangkan rencana dan karya pekerjaan tangan-Nya yang ajaib (48:12-16). Semua itu harus direnungkan Israel supaya mereka tidak kehilangan pengharapan. Dan mereka harus bertobat dan bersiap diri bilamana penebusan besar itu terjadi mereka harus segera menyambut keselamatan itu. Mereka akan didorong keluar dari tanah pembuangan Babel melalui hamba pilihannya (Koresh) karena masa depan umat Allah memang bukan di tempat itu. Dan mereka tidak hanya akan pergi meninggalkan Babel, tetapi untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi (48:20). Mereka harus gembira berteriak dan menyatakan apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka. Mereka akan bersaksi bahwa Allah telah menebus mereka dari pembuangan dari penindas mereka. Mereka memaklumkan bahwa Allah adalah Penguasa atas semesta (adon olam).
Di dalam Perjanjian Baru, kitab Ibrani 3:1 memberi kesaksian bahwa Kristus memiliki kedaulatan/otoritas atas segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (rhema) sehingga seluruh ciptaan mematuhi perintah-Nya.
Kesimpulan
- Meskipun umat Israel tidak berlaku setia kepada Tuhan, Ia tetap setia karena dia tidak dapat menyangkal diri-Nya. (2 Tim 3:13). Ia menggenapi janji-janji-Nya oleh karena sifat Allah yang setia, yang dengan kekuatan tangan-Nya menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya.
- Semua Nabi bernubuat tentang hal-hal di masa datang: penghakiman, penghukuman, pemulihan/penebusan dan kedatangan Mesias. Itu dilakukan agar umat menjadi percaya dan taat kepada firman Tuhan serta terhindar dari malapetaka, dan bagi yang didisplinkan (dihukum) agar segera bertobat dan kembali mengikuti rencana dan kehendak Tuhan
- Bagi Gereja, kita diperingatkan terus-menerus untuk memelihara iman dan hidup dalam ketaatan bukan semata agar terhindar dari pendisiplinan (hukuman) ilahi, tetapi demi dapat terus menjadi alat/saksi karya penyelamatan Tuhan bersama dengan sesama ciptaan yang lain. Jika Tuhan tidak menyayangkan cabang sendiri dari pohon (Israel) dipangkas, apalagi yang cangkokan seperti kita ( Rom. 11 ). Atau seperti lebih jelas dikatakan Yohanes, Dia (Kristus) bisa mengambil kaki dian (= pelayanan) dari tengah-tengah kita ( Wahyu 2 : 5).
Pendalaman untuk Pemahaman Alkitab
- Tuhan Allah menyatakan diriNya secara umum kepada manusia melalui kisah penciptaan dan perjalanan sejarah kehidupan umat manusia. Dan Tuhan Allah secara khusus menyatakan diri melalui firman dan karya-Nya di dalam Tuhan Yesus Kristus. Melalui pernyataan inilah manusia dibimbing untuk percaya (beriman) kepada Allah dan sedia (berpartisipasi) menjadi alat/saksi untuk mewujudkan rencana dan karya penyelamatan-Nya atas seisi dunia.
Bagaimana kita menanggapi pernyataan Tuhan Allah yang dahsyat ini dan bagaimana bentuk jawaban kita atas Pernyataan umum dan Pernyataan khusus Tuhan Allah ini?
Jawaban :
Bersyukur atas anugerah Tuhan dan berani mengungkapkan pengakuan iman akan Allah secara terbuka di hadapan dunia serta mewujudkan pengakuan iman itu dalam bentuk ketaatan hidup kepada perintah Tuhan.
***Ingatkan akan peristiwa pembaptisan/sidhi dimana kita mengaku percaya dan berjanji setia untuk mengikut Tuhan! (lihat. Kj 64, 60, 280, Maz 8: 1-5, Rm 10:10)
- Seluruh Ciptaan adalah hamba/pelayan Tuhan Allah (lih. Maz 33:9), yang mentaati perintah Tuhan Allah yang adalah Penciptanya. Allah berdaulat penuh dan memiliki otoritas mutlak atas seluruh ciptaan-Nya, termasuk juga Koresh, raja Persia yang dipakai menjadi alat Tuhan untuk melaksanakan karya penyelamatan bagi umat-Nya Israel. Namun betapa Ia menyesalkan bahwa umat yang dikasihi tidak mau mendengar firman Tuhan dan mematuhi kehendak-Nya sehingga kehilangan berkat-berkat yang sedianya akan diberikan kepada mereka.
Bagaimana dengan sikap kita ketika menanggapi panggilan Tuhan, apakah segala potensi yang Tuhan berikan untuk kita dapat menjadi berkat dapat menjadi maksimal ataukah menjadi sia-sia karena ketidaktaatan kita?
***Ingatkan akan moment/atau peristiwa dimana kita menerima panggilan Tuhan sebagai pelayan-pelayan-Nya, adakah keengganan saat awal memenuhi panggilan Tuhan karena harus mengorbankan waktu, tenaga, pikiran bahkan harta benda kita. Masihkah ada penyesalan dalam keikutsertaan kita melayani Tuhan dan sesama ciptaan?
- Dalam Bulan Penciptaan ini, masihkah kita belum melihat bahwa alam ciptaan Tuhan adalah sesama kita yang juga melayani Tuhan dan kehendak-Nya. Dan bukan sekedar obyek atau alat untuk memuaskan keinginan/kerakusan manusia sehingga dieksploitasi dan dimanipulasi demi kepentingan manusia semata.
Apakah intervensi manusia untuk memaksimalkan produksi pangan demi kebutuhan manusia tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan? Misalnya penggunaan benih transgenic (benih yang diradiasi), upaya percepatan masa panen tanaman dan penggemukan hewan yang singkat demi konsumsi manusia yang dilegalkan dengan tidak berperiketumbuhan dan kehewanan tidak dianggap merusakan keanekaragaman karya ciptaan Tuhan.
- Tindakan aksi. Ajaklah Jemaat untuk mengumpulkan atau mencari tanaman/pohon yang langka/hampir punah untuk dikembangbiakkan di gereja atau lingkungan warga meskipun secara nilai ekonomis mungkin tidak memberi keuntungan dibanding tanaman produktif untuk bisnis. Misalnya : Rukem, kepuh, tanjung, dan lain-lain.
Pdt. Patria Yusak
JANUARI II
Bacaan : Kejadian 35 : 1-15
Tema Bulan : Keselamatan Untuk Seluruh Ciptaan
Tujuan PA : Perkembangan diri menuju identitas hamba Tuhan yang semakin ikut serta dalam panggilan-Nya
Pengantar
Pertumbuhan rohani seseorang tidak akan pernah selesai pada satu waktu tertentu (Filipi 3:13 ; Ibrani 6: 1 ). Dan satu pertanyaan terpenting adalah apakah kita dapat tetap hidup di dalam Kristus? ( 1 Yohanes 5:12 ). Roh memang penurut tetapi daging lemah (Mat 26:41). Dan dalam waktu-waktu tertentu kita dapat menyaksikan bagaimana seorang yang beriman bergumul hebat dalam mengambil sebuah pilihan/keputusan yang sulit untuk diselaraskan dengan dengan panggilan hidupnya sebagai hamba/pelayan Tuhan.
Penjelasan Teks Kejadian 35 : 1-15
- Kejahatan anak-anaknya (Simeon dan Lewi) telah menyebabkan Yakub harus meninggalkan Sikhem dan tempat dia menetap selama ini. Tetapi ini juga menjadi jalan (sarana pengingat) Yakub untuk dapat pergi ke Bethel, di mana dia telah berjanji kepada Tuhan untuk datang ke situ dan memenuhi janjinya membangun mezbah yang telah dia ikrarkan dua puluh tahun yang lalu -saat ia mendapat pengelihatan ilahi dalam suatu mimpi tentang tangga ilahi ke sorga. Mungkin ini semacam undangan super kilat dari sorga untuk Yakub dari Allah agar segera datang memenuhi panggilan-Nya. Mungkin tanpa kejadian ini Yakub tidak pernah berpikir untuk segera memenuhi janjinya kepada Allah. Sebab pemenuhan sumpah atau janji adalah sesuatu yang penting menjadi indikator dari orang benar (Pengkotbah 5:4-5). Manusia mungkin lupa akan janjinya terhadap Tuhan ataupun sesamanya, tetapi Tuhan tetap mengingat-ingat janji-janji-Nya.
- Dan untuk memulai persiapan perjalanan menegangkan ini Yakub dan seisi rumahnya harus mengkuduskan diri dengan membuang segala illah-illah yang selama ini masih dimiliki di antara kaum keluarganya (bdk. Kej 31:32) dan merendahkan diri dengan tidak mengenakan perhiasan apapun.
- Perlindungan dan pemeliharaan Tuhan begitu nyata dirasakan oleh Yakub dan keluarganya manakala melewati kota-kota di sepanjang jalan menuju Bethel dengan tanpa ada gangguan dan ancaman. Sebab kegentaran dan kengerian Tuhan meliputi penduduk kota-kota tersebut.
- Sesudah perjalanan melelahkan itu Yakub sampai di Luz di tanah Kanaan, yaitu Bethel, bersama dengan semua kaum keluarganya. Namanya ditambahkan oleh Tuhan menjadi Israel yang berarti “Pahlawan Allah” yang telah menang dalam banyak pergumulan kehidupan. Banyak perjalanan yang begitu berat diawali dan beberapa perjalanan rohani nampaknya juga tidak pernah akan terhenti, tetapi hanya Dia yang membuat itu menjadi akhir bahagia (Maz 121:8).
Pendalaman untuk Pemahaman Alkitab
Cerita rakyat pribumi Amerika
Salah satu suku asli Amerika memiliki cara yang unik untuk melatih keberanian anak mudanya. Pada malam ulang tahun ketiga belas anak laki-laki, dia akan ditempatkan di sebuah hutan lebat untuk menghabiskan sepanjang malam sendirian. Sampai saat itu ia tidak pernah jauh dari keamanan keluarga dan sukunya. Tapi pada malam ini ia ditutup matanya dan dibawa beberapa mil jauhnya. Ketika ia melepas penutup mata, ia berada di tengah-tengah hutan lebat... sendiri ... sepanjang malam. Setiap kali ranting gemeretak, dia mungkin membayangkan ada binatang buas siap menerkam. Setiap kali ada binatang melolong, dia membayangkan akan serigala melompat keluar dari kegelapan. Setiap kali angin bertiup, ia bertanya-tanya apakah itu suara makhluk halus penunggu hutan. Tidak diragukan lagi itu adalah malam yang mengerikan bagi banyak orang.
Setelah apa yang ia alami sepanjang malam, sinar matahari pertama menembus bagian dalam hutan. Mulai terlihat sekeliling bunga, pohon, dan jalan setapak. Kemudian, dengan heran ia menunjukkan keterkejutannya karena ia melihat sosok seorang pria yang berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, mempersenjatai dengan busur dan anak panah. Dia adalah ayah dari anak itu yang telah berjaga sepanjang malam.
Pertanyaan :
Dapatkah Anda memikirkan cara yang lebih baik bagi anak anda untuk belajar bagaimana Tuhan mengijinkan kita untuk menghadapi ujian kehidupan, berikan contohnya?
Jawaban :
Allah selalu hadir bersama kita. Sementara kehadiran-Nya adalah tak terlihat, itu lebih nyata daripada kehidupan itu sendiri. Kita akan belajar bahwa Bapa kita membantu kita mengatasi ketakutan kita. Dia membantu kita, karena iman kita kepada-Nya. Prinsip utama yang terpenting adalah mempercayai janji-janji Allah.
Pertanyaan :
Perubahan nama mengandung makna yang teologis yang mendalam. Abram menjadi Abraham dan itu untuk seterusnya, Simon menjadi Petrus, tetapi mengapa perubahan nama Yakub menjadi Israel tidak sepenuhnya mengubah secara final?
Jawaban :
Nama Abraham ditambahkan dan memang dilarang kemudian menurut ajaran Yahudi untuk menyebut nama Abram lagi atas perubahan status nama tersebut. Sedangkan nama Israel diberikan ketika Yakub berada/sampai di tanah Kanaan/tanah terjanji (eretz Yisreel) lambang kemenangan Yakub atas pergumulan hidupnya. Ia memiliki identitas ganda yang terus saling mengisi, Yakub dalam status kerendahan yang harus terus berjuang untuk mendapatkan sesuatu untuk hidupnya dan Israel lambang kemenangan iman yang mengatasi musuh-musuhnya. Dan demikianlah perjalanan kehidupan rohani orang percaya di satu sisi harus terus gigih berjuang mendapatkan berkat rohani, di sisi lain ia berani menghadapi tantangan karena jaminan kemenangan dari Tuhan.
Pertanyaan :
Esau mengatakan, aku telah mempunyai banyak (Kej 33:9) dan Yakub mengatakan akupun telah mempunyai segala-galanya (Kej 33:11). Apakah artinya untuk kita orang percaya yang diberi kemampuan Allah untuk mengelola alam ciptaan Tuhan dan mendapatkan sesuatu dari kerja keras dari pengelolaan tersebut?
Jawaban :
Meski Esau mungkin unggul dalam perolehan harta melebihi apa yang dapat dikumpulkan Yakub, tetapi Yakub jauh lebih bersyukur atas karunia berkat rohani yang diberikan Allah kepadanya, sehingga ia dapat mengatakan telah mempunyai segala-galanya, yakni segala yang ia perlukan untuk hidupnya dan keluarganya: Keselamatan dan perkenan Allah.
***Bayangkanlah ada pengusaha yang sukses dengan banyak tender proyek yang tentunya akan menghasilkan banyak keuntungan uang dengan pengusaha yang hanya sedikit tender tetapi proyek itu betul-betul bermanfaat untuk kelangsungan dan kelestarian seluruh ciptaan. Manakah yang paling memahami dari arti dari profesi pengusaha yang mereka jalani? Pasti yang kedua.
Refleksi :
Menjadi pelayan Tuhan yang dipersiapkan oleh Tuhan untuk ikut serta dalam rencana dan karya penyelamatan Tuhan Allah atas dunia mensyaratkan pemurnian hati dan reformasi diri. Yakub selama 20 tahun telah bekerja keras demi mendapatkan keluarga dan kekayaaan (kesejahteraan) dan ia telah mendapatkannya. Tetapi ia belum menemukan panggilan hidup sebenarnya dari Allah. Di Bethel, Yakub menyadari arti dan maksud janji Allah serta limpahan berkat-berkat-Nya atas kehidupan dirinya dan anak-anaknya. Bahwa kesuksesan karir/ pekerjaan, memiliki keluarga besar dan kuat serta kemapanan/kesejahteraan hidup bukanlah akhir dari tujuan panggilan Tuhan.
Menyanyi Kidung Jemaat No. 401 “Makin Dekat Tuhan”
Pdt. Patria Yusak
FEBRUARI I
Bacaan : Matius 15:1-9.
Tema PA : “Melakukan Lebih Dari Yang Ditetapkan”
Tujuan :
- Agar warga jemaat mengetahui bahwa ‘Pemahaman Alkitab’ bertujuan agar setiap warga jemaat tertolong untuk dapat meraih kualitas hidup yang terbaik. Terbaik dalam melaksanakan peran, fungsi, posisi, dan profesinya masing-masing.
- Agar warga jemaat memahami bahwa untuk meraih hal tersebut (a), dibutuhkan sikap terbuka dan tidak munafik.
- Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu kreatif dan inovatif supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun kehidupan dengan kualitas terbaik.
Keterangan Teks:
Ayat 1-2: Para Farisi dan para ahli Taurat datang dari Yerusalem, pusat kekuasaan Yahudi, untuk meneliti aktifitas Yesus. Setelah berabad-abad sejak bangsa Yahudi pulang dari pembuangan di Babel, ratusan tradisi agama ditambahkan ke hukum Allah. Para Farisi dan para ahli Taurat menganggap semua itu sama pentingnya. Banyak tradisi tidak buruk pada dirinya dan ada tradisi tertentu dapat memperkaya dan memberi arti bagi kehidupan. Namun kita tidak harus berasumsi bahwa karena tradisi tersebut sudah kita praktekkan selama bertahun-tahun, maka tradisi tersebut perlu ditingkatkan statusnya menjadi hal yang sakral atau kudus. Prinsip Allah tak pernah berubah dan hukum-hukum-Nya tidak perlu ditambah. Tradisi sebaiknya membantu kita untuk dapat memahami hukum Allah dengan lebih baik.
Ayat 5-6: Ini adalah praktek membawa persembahan kepada Allah (Markus 7:11). Seseorang yang tidak bisa lagi memedulikan ayah dan ibunya karena uang atau biaya untuk hal itu sudah ia bawa sebagai persembahan untuk Bait Allah, menurut adat Yahudi hal tersebut bisa dibenarkan. Hal tersebut berarti menggunakan alasan agama untuk mengabaikan orangtua dan mengelakkan tanggungjawab anak bagi orangtuanya. Meskipun perbuatan memberi uang atau mempersembahkan uang kepada Allah, layak mendapatkan pujian, tetapi mengabaikan orangtua berarti tidak mempedulikan perintah Allah. Para pemimpin agama ini mengabaikan perintah Allah, yakni menghormati para oragtua mereka.
Ayat 8-9: Nabi Yesaya juga mengkritik atau mengecam kemunafikan (Yes.29:13), dan Tuhan Yesus mempergunakan kata-kata Yesaya untuk para pemimpin agama ini. Jika kita mengaku memuliakan Allah padahal hati kita jauh dari-Nya, maka ibadah kita tidak berarti apa-apa. Sikap seperti itu tidak cukup untuk hidup beragama. Perbuatan dan sikap kita harus tulus hati. Jika tidak, kritik dan kecaman Yesaya juga ditujukan bagi diri kita.
Ayat 9: Para Farisi tahu banyak tentang Allah, tetapi mereka tidak mengenal Allah. Tidak cukup bagi kita jika hanya belajar tentang agama atau studi tentang Alkitab, lebih dari itu kita harus merespon Allah sendiri.
Realitas kehidupan kini dan penerapan:
- Tidak sedikit orang yang ingin tampil beda, maksudnya adalah tampil terbaik di antara sesama dan lingkungannya. Misalnya, para orangtua memberikan dukungan kepada anak-anaknya agar memiliki nilai terbaik di sekolahnya. Tentu, hal-hal semacam itu tidak salah. Tetapi harus diingat bahwa tampil atau menjadi terbaik jangan hanya di bagian luarnya saja. Jangan menggunakan label ‘terbaik’ sebatas asesoris saja.
- Sebagian orang mengabaikan kebutuhan orang terdekat, sesama, dan lingkungannya untuk bisa tampil beda atau terbaik.
Metode:
Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Apa cita-cita atau harapan yang ingin anda raih? Menurut anda, apakah cita-cita dan harapan tersebut yang terbaik bagi anda, terbaik bagi orang terdekat, terbaik bagi sesama, dan terbaik bagi lingkungan anda?
- Bagaimana anda hendak meraih cita-cita dan harapan tersebut?
- Apa komentar anda tentang:
- Orang yang munafik?
- Orang yang mengabaikan kebutuhan sesama dan lingkungan dengan alasan agama?
Pdt. Em. Sri Hadijanto.
FEBRUARI II
Bacaan : Keluaran 22:21-27.
Tema PA : “Melakukan Lebih Dari Yang Ditetapkan”
Tujuan :
- Agar warga jemaat mengetahui bahwa di sekitar kita ada ‘orang asing’ atau pendatang baru. Mereka, sebagaimana kita semua, memiliki hak untuk diperlakukan secara adil.
- Agar warga jemaat memahami bahwa untuk meraih hal tersebut (a), dibutuhkan kesadaran yang utuh serta empati sebagai orang asing.
- Agar warga jemaat melatih diri untuk selalu kreatif dan inovatif supaya dapat berfungsi dan berperan positif secara optimal dalam membangun kehidupan dengan berkeadilan.
Keterangan Teks:
Ayat 21: Allah mengingatkan bangsa Israel untuk tidak memperlakukan tidak adil terhadap orang asing, sebab dahulu mereka sendiri adalah orang asing ketika berada di Mesir. Orang Israel harus ingat pengalaman mereka di Mesir agar bertindak jujur dan adil terhadap orang-orang bukan Israel dan kaum miskin, seperti janda dan yatim. Baca: Kel.23:9; Im.19:33-34; Ul.24:17-18.
Ayat 22-27: Hukum Ibrani ditulis untuk keadilan dan tanggungjawab sosial terhadap orang miskin. Allah menuntut bahwa orang miskin dan orang tanpa harapan diperlakukan dengan baik dan diberi kesempatan untuk merestorasi nasib baik mereka. Kita sebaiknya merefleksikan kepedulian Allah bagi orang miskin dengan menolong nasib kurang baik yang mereka alami itu daripada hanya peduli pada diri kita sendiri.
Ayat 26: Mengapa hukum menuntut kembalinya jubah seseorang? Jubah adalah salah satu harta paling berharga bagi orang Israel. Membuat jubah adalah pekerjaan yang sulit dan butuh waktu. Sebab itu, jubah bernilai mahal dan sebagian besar orang hanya mempunyai satu jubah saja. Jubah mempunyai multi fungsi, bisa digunakan sebagai selimut, sebagai karung untuk membawa barang-barang, sebagai tempat untuk duduk, sebagai jaminan hutang, dan tentu saja dipakai.
Dalam Alkitab, keadilan berhubungan dengan hukum Taurat yang diberikan Tuhan kepada umat Israel untuk melindungi dan menyejahterakan mereka.
Realitas kehidupan kini dan penerapan:
- Tidak mudah tiba dan berada di lingkungan baru, di mana kita merasa sendiri dan asing. Adakah orang asing di sekitar anda? Apakah mereka para pengungsi? Para imigran dari negeri lain? Ataukah mereka pendatang baru di sekolah, di tempat bekerja, di tempat tinggal? Jadilah peka dengan perjuangan mereka (para orang asing) dan ekspresikan kasih Allah melalui keramahan dan kebaikan budimu.
- Dalam masyarakat modern, keadilan sering sekali berarti: Keadilan yang pantas dan sesuai hukum. Adil berarti menerima hukuman sepantasnya atau ganti ruginya sesuai dengan kerusakan yang dialami.
Metode:
Untuk memenuhi harapan dan tujuan di atas (a, b, dan c), maka perlu sebuah percakapan dinamis dalam PA ini, dengan menjawab dan menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Sebutkan siapa yang anda maksudkan dengan ‘orang asing/pendatang/orang baru’ yang ada di sekitar anda dalam kurun waktu setahun terakhir ini. Bagaimana respons atau tanggapan anda menghadapi mereka?
- Apa yang anda butuhkan agar dapat merespons orang asing/pendatang/orang baru tersebut dengan baik, benar, dan adil?
- Langkah konkrit/nyata apa yang ingin anda lakukan untuk mewujudkan ‘Selamat Datang’ atau sambutan hangat anda bagi orang asing/pendatang/orang baru di lingkungan jemaat dan tempat tinggal anda?
Pdt. Em. Sri Hadijanto.
MARET I
Bacaan : Kolose 1:15-23
Tema : Taat Melakukan Kehendak Allah
Pengantar
Surat Paulus kepada Jemaat di Kolose, lazim di antara para ahli Perjanjian Baru, disebut sebagai surat yang ditulis oleh pengikut Paulus. Demi hormatnya kepada gurunya, maka surat yang ditulisnya dinamai khusus, ‘Dari Paulus, rasul Yesus Kristus...’ (Kol. 1:1). Kita perhatikan juga catatan dari sejarah umum. Catatan itu bisa dipergunakan untuk mengenali waktu pelayanan Paulus sebagai seorang Rasul. Kronologi umum ditulis antara lain oleh Prof. Wismoady Wahono, sebagaimana tersurat di bawah ini. Dan, dengan mengenali penanggalan tersebut, kita dapat memahami, bahwa mengaitkan sebuah surat kiriman di dalam Perjanjian Baru kepada Paulus sebagai penulisnya, berarti tidak bisa lebih dari tahun 65 Masehi. Sebab pada tahun 65 Masehi, riwayat hidup Paulus telah berakhir.
“... Tahun 33 Paulus bertobat menjadi Kristen. ... Tahun 35 mengunjungi Yerusalem; ... perkunjungan ke Yerusalem yang kedua kalinya, yaitu empat belas tahun kemudian, ialah tahun 49. ... Perjalanan Pekabaran Injilnya yang kedua mulai tahun 50 dan pada tahun itu juga dia sampai ke Korintus. ... Pada tahun 54-57, selama tiga tahun, Paulus berada di Efesus. ... Lalu tiba ke Yerusalem untuk ketiga dan terakhir kalinya pada kurang lebih tahun 59. ... Dia ditangkap tahun itu juga dan berada dalam tahanan selama dua tahun, sampai tahun 61. ... Pada tahun itu juga dia dibawa ke Roma, dan sampai di sana kira-kira permulaan tahun 62. ... Penahanannya selama dua tahun berlangsung sampai tahun 64, ... dan kira-kira tahun 64-65 ia mati sahid, bersamaan dengan penumpasan terhadap orang Kristen di Roma oleh Kaisar Nero.” (Di Sini Kutemukan, hlm. 425-426.)
Inti pokok kitab Kolose adalah demikian: ‘... surat Kolose melukiskan apa yang telah Yesus Kristus lakukan. Ketika Kristus mati di kayu salib, semua kuasa yang melawan Allah dikalahkan (2:15,20). Dalam surat ini juga terdapat nyanyian pujian yang indah tentang jati diri Kristus (1:15-20). Ia adalah Anak Allah (1:15) dan kepala ‘tubuh, yaitu jemaat’ (1:18). Penulis kemudian mengatakan bahwa Yesus adalah kunci yang membuka rahasia Allah (2:2).’ (lihat: Alkitab Edisi Studi, hlm. 1934)
Adapun teks yang kita bahas kali ini adalah rangkaian ‘nyanyian indah’ layaknya sebait syair pujian yang merdu tentang siapakah Yesus Kristus bagi jemaat-Nya yang sedang mengalami hidup dalam tantangan yang berat: antara tetap bertahan menjadi Kristen ataukah mengingkari Juru Selamat hidupnya itu.
Pertanyaan teks
- Ayat 15: Yesus Kristus disebut sebagai apa?
- Ayat 16-17: Mengapa Yesus Kristus disebut sebagai gambar Allah?
- Ayat 18, 20: Yesus Kristus disebut dengan sebutan lain lagi, sebutan apakah?
- Ayat 19: apakah yang menarik pada ayat 19 yang hanya pendek saja?
- Ayat 21: yang dimaksud ‘kamu’ adalah warga jemaat Kolose; di dalam ayat 21, disebut sebagai apakah warga jemaat Kolose?
- Ayat 22: warga jemaat Kolose didorong supaya apa?
Pertanyaan Refleksi
- Sebutan-sebutan yang dikenakan terhadap Tuhan Yesus Kristus bersifat sangat istimewa bagi orang percaya. Apakah Anda juga menangkap kesan yang sama yaitu bahwa Yesus Kristus adalah seorang yang istimewa? Jelaskan jawaban Anda berdasarkan pengalaman hidup Anda selama ini!
- Pendamaian yang sejati antara Allah dan manusia berada dalam diri Yesus Kristus (ayat 20). Apakah pentingnya pendamaian antara sorga dan bumi? Apakah pendamaian itu penting bagi Anda?
Penerapan
- Apakah Anda selama ini lebih memerankan diri sebagai pendamai? Ataukah Anda lebih sering memerankan diri sebagai pemicu perseteruan di dalam kehidupan bersama?
- Apakah Anda sungguh-sungguh berniat menjalani hidup Anda sebagai pembawa damai dan atau sebagai pendamai di tengah hidup bersama yang berpotensi tidak damai?
Kesimpulan
Lakon utama sedang digelar oleh Tuhan Allah. Pagelaran itu berlangsung di bumi. Judul pagelaran Tuhan Allah di bumi adalah pendamaian (upaya sengaja untuk menciptakan kerukunan, ketenteraman, atau harmoni). Agen pendamaian yang sempurna, atau yang sulung, adalah Yesus Kristus. Orang percaya yang hidup pada zaman sekarang juga menjadi agen pendamaian. Mungkin belum sempurna. Atau, mungkin belum kunjung sempurna. Namun demikian, setiap orang percaya yang telah diperdamaikan dengan Tuhan Allah, berarti dia telah mendapat ketenteraman di dalam hidupnya. Karenanya, orang yang demikian itu pastilah semakin melayakkan dirinya untuk menjalankan peran sebagai PENDAMAI.
Selamat meneguhkan diri sendiri bahwa Anda adalah seorang agen pendamai.
Pdt. Suwignyo.
MARET II
Bacaan : I Samuel 15:10-21
Tema : Taat Melakukan Kehendak Allah
Pengantar
Ada sesuatu yang menarik di dalam kitab I dan II Samuel, yakni pilihan fokus hidup. Artinya, bangsa Israel sejak memasuki tanah perjanjian dituntun langsung oleh seorang Nabi Tuhan. Atau mereka, pada perkembangan lanjutnya, dipimpin oleh seorang pemimpin bangsa bernama Yosua. Setelah Yosua, pemimpin bangsa Israel beralih pada diri hakim-hakim. Nama hakim yang terakhir adalah Samuel.
Samuel pun, kemudian, diutus oleh TUHAN agar memenuhi permintaan bangsa yang dipimpinnya. Mereka meminta pemimpin yang lain: seorang raja. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa di sekitarnya (I Samuel 8:5, 19-20). Akan tetapi juga ada pandangan yang kontradiktif. Artinya: bangsa Israel jangan sampai menjadi seperti bangsa lain di sekitarnya. Sistem kerajaan tidak boleh diberlakukan di Israel. Sebab, raja yang sejati bagi bangsa pilihan itu adalah Tuhan Allah. Dengan meminta raja manusia, maka sama dengan menolak Tuhan Allah sebagai raja mereka.
Sikap pro dan kontra itu berlangsung di dalam I Samuel. I Samuel 8:1-22 menentang, I Samuel 9:1-10:6 menyetujui, I Samuel 10:17-27 menentang, I Samuel 9:1-10:16 menyetujui, dan I Samuel 11:12-12:25 menentang. Demikianlah pertentangan itu berlangsung di dalam tubuh bangsa itu sendiri. Akhirnya, Allah menyetujui dan membiarkan bangsa itu memiliki seorang raja-manusia. Hal itu akan membawa perubahan besar di dalam sistem kekerabatan dan seluruh bangsa itu.
Meskipun demikian, ditetapkanlah sebuah pembagian ruang lingkup. Seorang raja boleh berkuasa. Namun, seorang raja tidak boleh merangkap tugas sebagai imam. Dengan kata lain, seorang raja di Israel, walaupun berkuasa, tidak diperkenankan raja menjalankan peran mempersembahkan korban. Raja memimpin dalam pemerintahan. Di samping raja, seorang Imam hadir untuk memperingatkan raja pada saat raja berbuat sesuatu yang melebihi kewenangannya. Peran sebagai imam itu dijalani oleh Samuel.
Pertanyaan teks
- Ayat 11: ulangilah membacanya sampai dua kali baca. Lalu renungkanlah: apakah inti ayat 11?
- Ayat 12 dan 13: tindakan apa yang telah dilakukan Saul? Apakah tindakan Saul itu tindakan seorang raja-Israel ataukah tindakan seorang imam?
- Ayat 17-19: apakah perintah Tuhan yang dilanggar oleh Saul?
- Ayat 20: jarahan/ harta telah menjadikan Saul mendua-hati. Apakah Anda setuju jika dikatakan seperti itu?
Pertanyaan refleksi
- Bangsa Israel sedang meletakkan dasar adanya sebuah sistem pemerintahan kerajaan, yakni: bahwa raja mereka adalah raja-manusia. Namun, kewenangan seorang raja dibatasi dengan sangat ketat.
- Apakah syarat kerendahan hati ditetapkan secara mutlak di dalam sistem kekuasaan bangsa Israel? Bagaimana menurut kesan Anda?
Penerapan
- Kekuasaan mutlak pada manusia, dilarang. Tidak boleh kuasa memerintah dijalankan oleh orang yang mengemban kekuasaan mengadili, megampuni. Inilah sebuah penghayatan mendasar bahwa pembagian kewenangan adalah penting. Supaya manusia terhindar dari tindakan sewenang-wenang.
- Sejauh manakah pembagian wewenang itu bisa diberlakukan dewasa ini? Apakah syarat utama pembagian kewenangan bisa berjalan dengan baik?
Kesimpulan
Peringatan berbahasa Jawa demikian: Melik nggendhong lali (hasrat memiliki membuat orang lupa diri). Pada diri Saul tidak dibedakan dengan jelas antara hasrat memiliki dan pembenaran-pembenaran untuk menutup-nutupi hasrat memiliki itu. Hasrat memiliki terhadap sejumlah harta. Itulah muasal persoalan Saul.
Di tangan seorang penguasa, hasrat memiliki sejumlah harta membuat sang penguasa membuat rekayasa, membuat argumentasi untuk membenarkan hasratnya untuk memiliki sejumlah harta.
Umat pilihan yang telah memasuki tanah air perjanjian sedang berada di persimpangan jalan: antara berbakti kepada Tuhan Allah sebagai Raja ataukah berbakti kepada penguasa-dunia; antara berdisiplin dan jujur serta taat kepada Tuhan Allah ataukah mempertautkan hatinya kepada harta.
Syukurlah, bahwa di dalam masyarakat umat pilihan diciptakan mekanisme koreksi secara jelas dan terpilah-tegas.
Pdt. Suwignyo.
APRIL I
Bacaan: Mazmur 36: 1- 13
Tema : Bersandar pada Allah Dalam Kesesakan
Jenis Sastra
Mazmur ini termasuk dalam kelompok doa permohonan pribadi yang berciri kebijaksanaan. Doa ini tidak merupakan teriakan kecemasan yang dilontarkan oleh orang yang berada dalam penderitaan yang mencekam. Dengan mengambil jarak dan sikap hati-hati, pembaca diajak untuk merenungkan nasib dan tingkah laku orang berdosa. Pemazmur tidak berada dalam keadaan sedang diserang oleh orang jahat. Pada akhir mazmur ini, pendoa mohon agar dia tetap berada di luar jangkauan orang jahat. Memang pengalaman akan kejahatan manusia akhirnya adalah kesempatan untuk merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.
Gagasan Utama
Ada dua bagian dalam mazmur ini yang dapat dengan jelas dibedakan.
- Ay. 2-5: penggambaran memakai bentuk kata ganti orang ketiga (= ia). Yang digambarkan ialah kelakuan orang yang jahat.
- Ay. 6-12: dalam bagian ini dipakai kata ganti orang kedua (= engkau). Isi bagian ini adalah doa kepada Tuhan. Pada ayat 13, sebagai penutup ditunjukkan bahwa doa telah dikabulkan.
Kejahatan mempunyai sumbernya dalam hati (ay. 2). Dalam lubuk hati ini benci dan cinta saling berebut pengaruh. Orang jahat telah memilih dosa, dan dosa itu bercokol di sana dan berkata: “Tak perlu takut akan Allah”. Bagi dia, Allah tidak lagi dianggap sebagai Yang Mutlak, yang harus diperhitungkan. Sebagai gantinya, diterima dosa sebagai prinsip, sistem dan garis-garis yang menentukan sikap hidupnya. Orang seperti itu merasa dirinya “bebas”, akan tetapi sebenarnya ia berada di bawah kekuatan yang dahsyat. Ia menjadi budak dari kekuatan itu.
Allah dikeluarkan dari cakrawala hidup manusia sehingga tidak berperan lagi bagi manusia dalam membangun sikap hidupnya. Karena manusia hanya melihat dirinya sendiri melulu dan kebutuhan-kebutuhan jangka pendeknya, seorang pendosa kehilangan pandangan yang lebih luas. Karena itu, dosa merupakan kegagalan akal budi, atau lebih tepat, cermin dari pandangan yang sempit.
Kalau seorang pendosa hidup dalam dunia dirinya sendiri yang tertutup, Tuhan adalah besar, luas dan penuh kasih. Kasih-Nya sampai ke langit dan kesetiaan-Nya menjangkau awan (ay. 6). Hukum-Nya adalah seperti samudera raya (ay. 7). Allah tidak ditundukkan oleh kejahatan, sebaliknya kejahatan, dunia kegelapan berada di bawah kuasa tangan-Nya.
Tuhan yang kebesarannya tidak terbatas, ada dekat di hati orang yang takut kepada-Nya. Perlindungan-Nya merentang seperti sayap induk ayam yang menaungi anak-anaknya. Dia menerima orang-orang yang percaya dengan kehangatan (ay. 8). Dia adalah sumber hidup yang memuaskan kehausan kita dengan berlimah-limpah (ay. 9). Siapakah kita ini, ditentukan oleh hubungan kita dengan Dia. Dia adalah terang, dan kebijaksanaan kita hanya bersinar dalam terang itu.
Arti Kristiani dan Aktualisasi
Perjanjian Baru mengenal “rahasia kedurhakaan yang sudah bekerja” (2Tesalonika 2: 7). Si pendurhaka bermegah, membuat rupa-rupa yang ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat (2Tesalonika 2: 9). Istilah-istilah ini juga dipakai untuk mengambarkan karya Yesus dalam Kisah R 2: 22; 10: 38. Kedurhakaan adalah kekuasaan yang melawan Allah, penipuan dan mampu tampil sebagai yang mengambil peran serupa.
Kejahatan ini tampaknya tidak pernah berubah. Jahat berarti menolak kebenaran dan kasih (2Tesalonika 2: 10). Kejahatan juga adalah keadaan terpencil. Tidak ada orang yang lebih terpencil daripada orang yang memikirkan diri sendiri melulu. Seorang egois tidak mencintai siapapun dan dicintai oleh siapapun. Sebaliknya seorang yang percaya sekurang-kurangnya tahu kepada siapa dia harus membagirasakan kebahagiaannya atau kadang-kadang juga penderitaannya. Dalam hubungan dengan orang lain, seorang yang percaya selalu dilahirkan kembali untuk menjadi semakin bebas, dan mengarahkan kebebasannya kepada yang benar dan baik. Secara istimewa, dalam hubungan dengan Kristus, dia menghindarkan diri dari jalan gelap egoisme: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8: 12).
Pertanyaan Untuk Digumuli
- Bagaimana sikap kita dalam menghadapi dunia yang penuh dengan penderitaan dan tantangan ini?
- Apa artinya “berserah kepada Tuhan” dalam hidup ini bagi saudara?
Pdt. Em. Didik Prasetyoadi Mestaka
APRIL II
Bacaan: 1 Korintus 15: 1-11
Tema : Perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hidup
Penjelasan Teks
Dengan menambahkan pengajaran tentang kebangkitan, Paulus mengandaikan bahwa orang-orang Kristen di Korintus tidak akan mengalami begitu banyak masalah dan konflik, seandainya mereka memahami –atau lebih baik sungguh menerima– seluk-beluk kebangkitan badan. Hampir semua salah paham orang Korintus berkaitan dengan kegagalan mereka untuk menghargai dengan tepat hal-hal jasmani. Seluruh iman Kristen bergantung pada penerimaan realitas kebangkitan (lih. 15: 17). Paulus mengakhiri dan meringkas pesan seluruhnya kepada orang Korintus dengan suatu tinjauan mengenai dasar dan implikasi dari ajaran dasar ini. Pertama, ia mengemukakan unsur tradisional dan mendasar dari kepercayaan kepada kebangkitan Kristus (15: 1-11). Kemudian ia menyinggung hipotesis orang Korintus bahwa tidak ada kebangkitan, tetapi ia menolak omong kosong ini (15: 12-24). Paulus meneruskan usahanya menjelaskan cara kebangkitan (15: 35-58), dan menutupnya bahwa misteri ini hanya diraba melalui iman.
Kebangkitan Kristus
Paulus mengingatkan mereka yang menjadi keluarga melalui baptis dan Injil yang mereka dengar diberitakan kepada mereka. Mereka telah menerima bahwa Injil bukan hanya pengajaran atau doktrin. Injil adalah kuasa untuk menyelamatkan, bahkan sekarang itu menyelamatkan orang-orang Korintus bila mereka tetap setia kepada apa yang telah mereka pelajari dari Paulus. Jika mereka tidak bertahan dalam Injil tersebut, sia-sialah mereka ditobatkan.
Dengan menggunakan bahsa teknis untuk tradisi (“… telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri”), seperti yang ia lakukan ketika berbicara mengenai Perjamuan Kudus (1Korintus 15: 3). Paulus mendasarkan Injil pada pondasi yang kuat dari tradisi yang menjangkau kehidupan Yesus di dunia. Pusat ajaran Kristen adalah kematian dan kebangkitan Yesus. Untuk tradisi ini, Paulus meminjamnya dari syahadat iman yang ada, yang ia kutib dalam 15: 3b-5. Syahadat iman mempercayai empat unsur: Kristus mati, ia dimakamkan, dibangkitkan, menampakkan diri. Kitab Suci Perjanjian Lama telah menjanjikan seseorang yang akan menyelamatkan kita dari dosa kita. Inilah yang dilaksanakan oleh kematian Kristus.
Pemakaman Kristus menekankan kenyataan kematian-Nya. Dalam pemikiran bangsa Yahudi, pemakaman adalah tahap terakhir dari kematian. Tiga hari melambangkan kenyataan kematian dan pemakaman itu. Yesus dikemukakan Paulus bukan sebagai pelaku kebangkitan. Allah adalah hakim orang yang hidup dan yang mati. Kristus dibangkitkan oleh Allah, kata Paulus (lih. Roma 10: 9). Kristus benar-benar hidup. Kemudian, Kristus memperlihatkan diri kepada para murd. Mereka tidak mengalami halusinasi. Orang-orang Kristen mengungkapkan kesadaran mereka bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang obyektif, yaitu Kristus menampakkan diri, bukan hanya “kelihatan”. Penampakan-penampakan ini yang mendasari iman kristiani.
Paulus meneruskan memberikan daftar penampakan-penampakan kebangkitan yang penting bagi perkembangannya di sini karena mereka ini adalah dasar Gereja. Beberapa penampakan disubutkan Paulus tidak terdapat dalam Injil (misalnya kepada lima ribu orang). Di pihak lain, keempat Injil menceritakan penampakan pertama-tama kepada para wanita, yang tidak disebutkan oleh Paulus. Pilihan Paulus di sini menyingkapkan motifnya untuk menarik kepada penampakan kebangkitan. Paulus menekankan kewibawaan rasulinya sendiri dan menunjuk penampakan kebangkitan sebagai dasar iman yang ia meliki bersama-sama orang Korintus. Penglihatan Paulus sendiri menutup daftar tersebut. Maksudnya ialah bahwa penampakan dari Tuhan yang sudah bangkit memberikan kewibawaan kepada karyanya sebagai rasul. Meskipun ia adalah yang paling kecil dari antara para rasul (Paulus berarti: paling kecil), ia dipanggil bukan berdasarkan atas jasanya, melainkan karena Allah memberi karunia kepadanya. Karunia itu, menghasilkan buah, seperti tampak dalam kegiatan misioner Paulus. Berkat karunia Allah, Paulus memberitakan Injil, dan berkat karunia itu orang-orang Korintus percaya.
Pertanyaan Untuk Digumuli
- Apakah artinya percaya atau beriman kepada Yesus yang sudah bangkit menurut pandangan saudara?
- Apakah betul perjumpaan Anda dengan Kristus itu mengubah hidup Anda? Coba jelaskan!
Pdt. Em. Didik Prasetyoadi Mestaka
MEI I
Bacaan : Keluaran 24: 1-11
Tema Liturgis : Memberi dengan sukacita
Pendahuluan
Beberapa ahli (Janzen, Child, Durham) membagi perikop ini ke dalam tiga struktur besar yaitu Kel 24:1-2, Kel 24:3-8, dan Kel 24:9-11.[1] Dari struktur besar ini, terdapat dua tema penting yaitu perjamuan makan bersama (ay.1-2 & 9-11) dan upacara pengikatan perjanjian darah (ay. 3-8).[2]
Hal utama yang perlu kita pahami dalam membaca Kel 24:1-11 adalah konteks mengapa kedua peristiwa dengan tema yang berbeda ini (bahkan menurut ahli, kebiasaan makan bersama sebenarnya tidak umum dalam kesatuan tema utama tradisi Sinai)[3] digabungkan dan ditempatkan setelah peristiwa Sinai. Diduga, perikop ini dibuat oleh editor untuk membawa pembaca kepada kesimpulan dari rangkaian narasi/ cerita Kel. 19-23, perjanjian Sinai.[4] Editor kemungkinan ingin membuat sebuah “akhir yang ideal”[5] namun sekaligus menciptakan sebuah alur yang mendukung untuk pewahyuan dan tuntunan TUHAN selanjutnya (bab 25 dst.). Selain itu, menurut Durham, Kel 24 dilihat sebagai upaya redaktur untuk mendasari persiapan pembentukan dan pensahan pemimpin-pemimpin/ wakil-wakil bangsa Israel, sekaligus sebagai penegasan peran Musa sebagai wakil dan perantara TUHAN dengan bangsa-Nya.[6]
Perikop ini membicarakan dua tema besar yaitu: ikatan perjanjian darah dan kehadiran wakil umat Israel di hadapan TUHAN dalam perjamuan makan. Meskipun berbeda, keduanya disatukan oleh sebuah benang merah yaitu keduanya merupakan ungkapan yang umum digunakan oleh masyarakat Timur Tengah kuno untuk mengikat perjanjian (bdk. Kej 26:26-31; 31:43-54; Kej 15:7-20; Yer 43:18).[7]
Kata darah (Ibr: dim) dalam Perjanjian lama memiliki arti yang lebih bernuansa kehidupan daripada nuansa bagian tubuh. Darah biasa digunakan sebagai bahasa puitis untuk menunjuk hidup (bdk. 2Sam 1:22; Ul 12:23).[8] Di masyarakat sekitar bangsa Israel, darah memiliki makna yang sama mendalamnya. Masyarakat Mesopotamia percaya bahwa manusia diciptakan dari darah allah. Oleh masyarakat Mesir, darah dipercaya sebagai sumber hidup karena manusia lahir dari tetes-tetes darah ilahi. Sementara itu, oleh masyarakat Kanaan dan Arab, darah dipandang sebagai hidup. Orang Kanaan biasa mengatakan ungkapan: “tumpahkan darahnya” sebagai seruan untuk membunuh seseorang. Darah merupakan inti hidup yang utama.[9]
Sementara itu, di dalam dunia kuno, makan bersama menjadi simbol “sharing of life” (berbagi kehidupan). Mengkhianati orang yang sehidangan dipandang sebagai sebuah pukulan yang sangat telak bagi hidup bersama.[10] Oleh karena itu, makan bersama juga mengandung makna hidup yang sejalan dengan nilai darah.
Perayaan pengikatan perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel dibingkai dalam nuansa ikatan darah dan makan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan ini bukanlah perayaan yang main-main. Ia bermakna hidup. Selain itu, perayaan pengikatan yang serius ini juga menggambarkan bagaimana perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel adalah hal yang serius, yang berarti kehidupan bagi bangsa Israel.
Refleksi atas Kel 24:1-11
Perikop ini adalah respon umat Israel terhadap undangan Allah yaitu perjanjian-Nya. Mereka memilih untuk menjadi satu keluarga dengan TUHAN. Ikatan darah yang mereka lakukan berarti memberi diri untuk hidup di dalam hidup Allah sendiri. Dan ini berarti mereka konsekwen dengan tuntutan untuk menjadi kudus sebagaimana Allah itu kudus. Melanggar janji ini berarti Israel memutus ikatan darah di antara TUHAN dan mereka dan ini berarti juga memutus hidup mereka sendiri. Mulai saat ini hidup bangsa Israel sungguh bersumber dan berpuncak dari ikatan perjanjian mereka.
Dalam konteks hidup kekristenan, peristiwa perjamuan terakhir Yesus sangat dapat dipahami sebagaimana memahami Kel 24:1-11. Seperti pada perjanjian lama ini, Perjanjian baru dalam Yesus juga diikat lewat perayaan makan bersama dan ritual darah. Dalam darah Kristus, kita dipersatukan dalam satu keluarga Allah dan kita saling berbagi hidup dengan Allah. Bila dalam Perjanjian Lama darah yang digunakan hanya menjadi bagian upacara, dalam Perjanjian Baru darah Yesus yang tertumpah menjadi jaminan akan pengampunan dosa-dosa kita.[25] Dengan begitu kita dilayakkan oleh-Nya.
Ikatan baru ini diciptakan berdasarkan seluruh kata dan perbuatan dan pelayanan Kristus sendiri. Kristus bukan sekedar perantara, tapi Ialah Sabda Allah sendiri. Maka, kita dengan mengikuti perjamuan-Nya berarti telah berseru seperti umat Israel, “segala ketetapan-Nya akan kami lakukan.” Melakukan yang bertentangan dengan sabda, perbuatan, dan pelayaan Yesus berarti kita memutus ikatan yang telah kita buat. Memutus ikatan itu sama dengan mati, sebab hidup kita sudah satu di dalam-Nya dan kita tidak dapat hidup tanpa sumber hidup itu sendiri.
Manusia hanya dapat mendekati Tuhan bila rahmat-Nya ada. Dan, kita telah menerima rahmat itu lewat undangan masuk dalam perjanjian-Nya, ‘berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Tuhan’. Bersama dengan undangan itu, sekarang adalah saatnya kita senantiasa menguduskan diri agar layak masuk dalam perjamuan-Nya. Perjamuan-Nya harus menjadi puncak dan sumber hidup kita sebagaimana orang Israel menjadikan ikatan perjanjian itu sebagai puncak dan sumber yang terus-menerus mengingatkannya pada perintah Allah dan membuat mereka melaksanakan perintah Allah.
Pendalaman pribadi
- Dengan penyataan kasih Tuhan Allah yang luar biasa besar bagi umatNya, apakah yang patut dan layak kita haturkan bagi kemuliaan namaNya?
- Sudahkah kita menyatakan syukur yang terbaik kepada Tuhan yang berkenan mengikat perjanjian keselamatan kekal dengan kita manusia yang berdosa ini?
Pdt. Abednego Adi Nugroho
MEI II
Bacaan :Mazmur 100: 1 – 5
Tema Liturgis : Masa Raya Unduh-Unduh: “Memberi dengan Sukacita”
Tema PA : Bersyukur Selalu...
PENGANTAR
Bacaan Mazmur 100 ini adalah bagian dari bacaan Mazmur korban Syukur. Artinya, Mazmur ini biasa dinyanyikan atau dibacakan pada saat umat sedang mempersembahkan korban syukur kepada Tuhan. Tentu praktek korban yang dimaksud adalah praktek korban yang dilakukan di Bait Allah. Sebagaimana dalam tradisi ritual umat Israel yang senantiasa mempersembahkan korban, maka jenis dan bentuk korbanpun berbeda-beda sesuai niat dan iman umat. Di antara jenis korban yang berbeda itu ada satu korban yang selalu dilakukan oleh umat yaitu korban syukur. Korban jenis ini rutin dilakukan dan tidak bergantung kepada kondisi. Artinya korban syukur itu adalah persembahan harian umat kepada Tuhan. Tentu berbeda dengan korban penebusan dosa yang dilakukan umat saat mereka berbuat dosa dan juga korban lainnya.
Menjadi menarik ketika korban syukur adalah korban rutin yang tidak bergantung kepada kondisi atau peristiwa yang dialami oleh umat Tuhan. Sehingga, muncullah pertanyaan: mengapa umat Tuhan selalu mempersembahkan korban syukur? Apakah umat selalu mengalami kondisi berlimpah berkat dan baik-baik saja? Tentu saja, sebagai manusia umumnya, umat Israel tetap mengalami kelimpahan dan kekurangan, sehat atau sakit, namun demikian bersyukur adalah bagian dari kehidupan dalam berbagai kondisi tersebut.
Cerminan hidup selalu bersyukur itulah yang dituliskan oleh Mazmur 100 ini. Pada bagian ayat 1-2 ada seruan untuk selalu bersorak-sorai bagi Tuhan. Sorak-sorai adalah perwujudan sikap hidup yang penuh dengan kegembiraan. Dan sorak-sorai itu berkaitan dengan ibadah kepada Tuhan. Bolehlah dikatakan bahwa kegembiraan yang dibangun dan dilakukan umat itu semata karena Tuhan bukan bergantung dari peristiwa atau kondisi yang dialami oleh umat Tuhan. Artinya kegembiraan itu ditujukan bagi Tuhan bukan bagi diri sendiri, sebab kosekwensi atas dua hal itu berbeda. Jikalau kita bergembira untuk diri sendiri, maka sangat bergantung dengan kondisi kita. Masakan sakit bergembira? Masakan panen gagal bergembira? Masakan kekurangan bergembira? Itulah sebabnya kegembiraan kita disebabkan karena Tuhan dan ditujukan bagi Tuhan. Lebih jauh lagi alasan atas syukur kita ditegaskan di ayat ke-3: “.... Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita...”
Dalam ayat ke-4, undangan untuk bersyukur itu lebih dirinci lagi yaitu melalui nyanyian yang dinyanyikan di dalam rumah Tuhan. Gambaran pintu gerbang, pelataran adalah gambaran dari rumah Tuhan. Ungkapan syukur dan kebahagiaan kita itu haruslah dibawa ke dalam rumah Tuhan, diserahkan di dalam rumah Tuhan. Ini berarti bahwa ungkapan syukur kita haruslah diwujudkan dalam persekutuan kita dengan Tuhan. Mengapa kita bersyukur kepada Tuhan dan harus dinyatakan dalam persekutuan dengan Tuhan? Ayat 5 memberikan penjelasannya, yaitu: “Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun...” Jelaslah kini bahwa kita harus senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena: pertama, kita memiliki Tuhan yang baik. Jikalau Tuhan itu baik maka pasti apapun yang kita alami pastilah Tuhan juga yang menyertai. Kedua, kasih setia Tuhan selama-lamanya. Kasih setia Tuhan tidak ada habis-habisnya sepanjang masa dan tidak bergantung kepada jaman dan waktu apapun juga. Ketiga, kesetiaan Tuhan bukan hanya bagi kita saja tetapi juga kepada seluruh keturunan kita, yaitu orang yang selalu bersyukur kepada Tuhan. Undhuh-undhuh adalah ungkapan syukur kita kepada Tuhan. Ungkapan syukur ini bukan bergantung dari apa yang kita alami, tetapi karena Tuhan yang baik, Tuhan yang penuh kasih setia dan yang kesetiaanNya untuk selama-lamanya. Karena itu mari kita nyatakan syukur dengan penuh sukacita.
PANDUAN REFLEKSI
- Pernahkah saudara mengalami dan merasakan peristiwa sehingga saudara merasa sangat sulit bergembira apalagi bersyukur?
- Peristiwa apakah yang menjadikan saudara tetap bersyukur dan tidak ingin kehilangan ungkapan syukur?
- Dengan cara dan sikap bagaimanakah kita mampu menyatakan syukur kepada Tuhan dalam perayaan unduh-unduh ini?
Pdt. Eko Adi Kustanto
JUNI I
Bacaan : 2 Timotius 1: 8-12
Tema liturgis : Kuasa Kristus memandirikan umatNya
Keterangan bacaan
Perikop ini merupakan nasehat Paulus kepada Timotius, anak rohani Paulus. Paulus sangat mengenal dan mengasihi Timotius. Timotius pembawaannya sangat halus, pemalu dan agak penakut. Ada kemungkinan pembawaan halus, pemalu dan agak penakut yang dimiliki Timotius dikarenakan ia dididik oleh 2 orang wanita tanpa adanya pengaruh seorang pria. Namun dia mempunyai iman yang tulus iklas (2 Tim. 1:5). Oleh karena itu, ketika Paulus merasa hidupnya tidak lama lagi (akan dihukum mati dalam waktu dekat), ia menulis surat 2 Timotius ini dari penjara Roma. Tentu tidak hanya disebabkan rasa kesepian dan firasat kematian yang membuat Paulus menulis surat ini, tetapi juga karena mengetahui bahwa Timotius menghadapi kesukaran dan menyadari akan kemungkinan penganiayaan berat dari luar gereja dan adanya guru-guru pal
