Katekisasi Calon Sidi: Musik Gereja

Kamis, 16 Maret 2017

Nara Sumber : KPKG

 

BAB I

Makna Teologis Musik Gereja

Musik gereja adalah musik yang berkembang di kalangan Kristen, yang merupakan ungkapan isi hati orang percaya, yang diungkapkan dalam bunyi-bunyian yang bernada dan berirama secara harmonis.

Sama dengan musik secara umum, unsur vocal dan instrument harus diperhatikan, karena dalam bermusik di gereja/ibadah sarat dengan makna teologis dan berkenaan dengan iman. Adalah sangat penting musik gereja disajikan secara tepat, agar jemaat mampu menghayati imannya dengan bantuan musik.

Memasuki abad ke 18, Isaac Watts (1674 – 1748), yang juga sering disebut sebagai Bapak Lagu Pujian, mulai menggunakan lagu pujian untuk meringkaskan khotbahnya. Ia percaya sepenuhnya bahwa karena lagu pujian merupakan persembahan kepada Allah, maka setiap orang harus menyanyikannya sendiri. Beberapa hasil karya Isaac Watts yang terkenal adalah “When I Survey the Wondrous Cross” dan “Jesus Shall Reign Wherever the Sun”.

Pada abad ini beberapa karya besar diciptakan oleh penggubah-penggubah dunia, misalnya :

  • Heinrich Schuitz dan J.S. Bach menggubah Passion Music, yang menggambarkan penderitaan Kristus
  • George Frederick Handel, yang pertama menulis musik dramatis rohani dalam bahasa inggris. Karya besarnya yang terkenal adalah The Messiah
  • Franz Joseph Haydn, yang menciptakan The Creation
  • Felix Mendelssohn, yang menciptakan The Elijah

        Pada abad ke 19, para penggubah lagu pujian mulai banyak dipengaruhi oleh semangat romantic, yang berniat memperbaiki kualitas literature dari lagu-lagu pujian. Salah satu gubahan yang terkenal pada abad ini adalah “Kudus, Kudus, Kudus” yang diciptakan oleh ReginaldHeber.

Pada tanggal 14 Juli 1833, muncul suatu gerakan religious baru di Inggris, yang disebut Gerakan Oxford, dimana gerakan ini berusaha menegakkan suatu ibadah yang lebih sakral dan khidmat dengan penggunaan musik dalam kebaktian. Gerakan ini memberi banyak pengaruh kepada gereja-gereja Protestan dengan dibentuknya paduan suara anak-anak, penggunaan jubah, penggunaan lambang, arak-arakan dan nyanyian di akhir kebaktian.

  1. JENIS MUSIK LITURGI
  • Musik Gregorian

Musik Gregorian adalah khazanah dasar musik liturgi gereja. Karena gereja memandang nyanyian Gregorian sebagai nyanyian khas bagi liturgi romawi, maka jika tidak ada pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting, nyanyian Gregorian hendaknya diutamakan dalam upacara-upacara liturgi.

Corak musik Gregorian lahir dari corak musik Yahudi. Musik ini mula-mula dikenal dengan nama music monofoni (satu suara). Namun pada abad pertengahan, Paus Gregorius Agung secara resmi memperhatikan musik gereja, dengan mengumpulkan melodi-melodi yang sudah dipakai di berbagai gereja dan membentuk suatu kumpulan nyanyian resmi dalam ibadah. Sebagai tanda peringatan akan jasa Paus Gregorius Agung, maka nyanyian monofoni itu dinamakan Gregorian.

Nyanyian Gregorian ini telah dirasakan dan dihayati oleh gereja selama berabad-abad sebagai nyanyian yang sakral, karena menyatakan keindahan yang mulia.

Nyanyian Gregorian memiliki tangga nada khusus, yang diperkenalkan oleh seorang musisi dari biara St. Amand, yakni Haubald (840 – 930), dalam bukunya “The Harmonica Institutione”.

Ada 8 tangga nada dalam musik Gregorian, yang disusun menurut teori modalitet Haubald, yaitu :

    • Doris ----- memiliki suasana yang bersifat serius dan berat
    • Frigis ----- suasana yang diciptakan bersifat mistis, lembut dan menyambung
    • Lidis ----- memberikan suasana senang, hidup dan gembira
    • Miksolidis ----- menciptakan suasana agung dan megah
    • Hipopodoris ----- memiliki suasana yang bersifat serius dan berat
    • Hipofrigis ----- suasana yang diciptakan bersifat mistis, lembut dan menyambung
    • Hipolidis ----- memberikan suasana senang, hidup dan gembira
    • Hipomiksolidis ----- menciptakan suasana agung dan megah

Nuansa dari setiap lagu itulah yang menjadikan musik Gregorian dirasa selaras dengan jiwa perayaan liturgi, baik yang meriah maupun yang yang meditatif.

Selain kekhasan dalam nuansa setiap lagunya, musik Gregorian juga memiliki kekhasan dalam irama dan gaya bernyanyinya. Dengan gaya bernyanyi yang unik ini, musik Gregorian dapat dirasakan sebagai musik sakral atau sebagai doa yang dinyanyikan.

  • Musik Polifoni – Musik Klasik Gerejawi

Diantara abad 9 sampai dengan akhir abad 11, musik gereja mengalami suatu perkembangan baru. Pada masa ini, para komposer mulai menambah harmoni pada lagu-lagu, sehingga terbentuk lagu yang terdiri dari banyak suara, yang kemudian dikenal dengan nama musik polifoni dan merupakan cikal bakal lahirnya paduan suara.

Dengan adanya musik polifoni ini, gereja pada masa itu melarang penggunaan nada-nada lagu sekular dan mengharuskan agar syair dalam setiap lagu harus ditonjolkan agar mudah dipahami oleh umat.

Pada masa kini, salah satu bentuk music polifoni yang dikenal adalah musik klasik gerejawi.

Menurut ensiklopedi Indonesia, kata ‘klasik’ mengandung makna suatu karya cipta dari zaman lampau dengan nilai seni yang bermutu tinggi, yang keindahannya tidak akan luntur sepanjang masa. Hal ini terwujud dalam seni musik klasik gereja, yang memiliki nilai estetika tinggi, yang mampu mengangkat kewibawaan liturgi gereja. Lagu dan iringan musik “Malam Kudus’ karya F. Gruber dan ‘Halleluya’ karya G.F. Handel misalnya, merupakan musik klasik gerejawi dengan daya mistik yang kuat dan menggema sepanjang masa.

Ulrich Michels dalam bukunya ‘Atlas zur Musik’ berpendapat bahwa musik klasik gerejawi tidak sebatas pada apresiasi keindahan nuansa musik, tetapi juga memiliki pula pewahyuan kebenaran yang jika direfleksikan dapat memberikan makna yang bernilai sejarah. Salah satu faktor yang menjadikan musik klasik seakan memiliki nilai mistik yang tidak terungkapkan, adalah karena para pemusik klasik mencipta musik lewat refleksi dan penghayatan iman yang mendalam.

Sementara itu di Indonesia, komposisi musik gereja bereferensi pada kaidah-kaidah komposisi musik klasik. Selain itu dalam pola iringan organ gereja, komposisi musik klasik menjadi warna khusus iringan organ gereja, baik untuk mengiringi nyanyian klasik gerejawi itu sendiri, maupun dalam mengiringi nyanyian Gregorian. Pada dasarnya, iringan organ dalam musik liturgi tersebut disusun menurut pola ‘kantionalsatz’, yakni iringan yang menggunakan system pembalikan akor dan bass berjalan. Organis gereja yang mempelajari iringan tersebut, akan merasakan keindahan iringan music liturgi.

  • Musik Inkulturatif

Istilah inkulturasi pertama kali muncul dalam dokumen penutup sinode para uskup ‘Ad Populum Dei nuntius’ tahun 1979, yang artinya adalah ‘masuk dalam budaya’.

Dalam perkembangannya, istilah inkulturasi banyak dipakai dalam gereja katolik roma, yakni dimana unsur-unsur/bentuk asli dari adat istiadat diberi arti baru, yaitu arti kristiani.

Dalam bukunya yang berjudul ‘ Penyesuaian Liturgi dalam Budaya’, Anscar Chupungco menulis bahwa sebuah inkulturasi bila dilaksanakan dengan tepat, merupakan sarana yang ideal untuk mengkristenkan segenap kebudayaan dan hal ini harus terjadi secara berkesinambungan.

Di wilayah-wilayah tertentu, terdapat bangsa-bangsa yang mempunyai tradisi musik sendiri, yang memainkan peran penting dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Hendaknya musik itu mendapat penghargaan selayaknya dan tempat yang sewajarnya, baik dalam bentuk sikap religius mereka, maupun dalam menyelesaikan ibadat dengan sifat perangai mereka. Oleh sebab itu, bagi para misionaris hendaknya sungguh diusahakan, supaya mereka sedapat mungkin mampu mengembangkan musik tradisional itu dalam ibadat, sehingga segala unsur kebudayaan termasuk di dalamnya adalah musik-musik tradisi, mendapat ‘bobot kudus’ dengan menyatu dalam sebuah perayaan liturgi.

Dengan demikian, musik inkulturatif dapat diartikan sebagai kesenian musik dari berbagai tradisi kebudayaan, yang dimasukkan dalam liturgi sehingga memiliki ‘bobot kudus’ (nilai kesakralan) sebagai salah satu corak music liturgi.

Namun demikian, melalui instruksi Konstitusi Liturgi, gereja tetap memberikan peringatan tertentu dalam berbagai kreativitas bermusik dalam liturgi, sehingga tidak menjadi ‘sangat bebas dan tidak terkendali’.

  1. Pentingnya Musik Gereja :

Musik mempunyai arti yang sangat penting dalam ibadah gereja, karena sebagian besar porsi ibadah gereja memiliki unsur musik, baik vokal maupun instrumental.

Begitu pentingnya musik di dalam gereja, sehingga Martin Luther, tokoh gereja protestan era reformasi, menyatakan bahwa ‘gereja yang baik adalah gereja yang bernyanyi’.

Makna musik dalam ibadah gereja/liturgi gereja adalah sebagai ungkapan simbolis perayaan iman jemaat gereja. Perayaan iman yang dimaksud adalah penghayatan terhadap misteri dalam agama Kristen, dalam diri Kristus sebagai sosok penyelamat yang benar-benar menyentuh perasaan umat dalam nyanyian, maka hubungan musik dan liturgi harus bersifat harmonis, yaitu keseimbangan yang pas antara musik dan penghayatan iman menjadi tidak terpisahkan.

Dengan demikian, musik menjadi alat teologi dalam mendidik umat, yang bertujuan mencerdaskan umat untuk berperilaku yang baik sesuai ajaran gereja. Namun tidak dapat dipungkiri, ada beberapa masalah yang timbul dalam memahami pentingnya musik gereja dalam sebuah ibadah. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah :

  •   Kebanyakan orang masih memandang musik gereja sebagai hal yang sepele. Mempelajari musik gereja secara mendalam merupakan salah satu cara yang baik untuk menghindari cara pandang yang salah mengenai musik gereja.
  •   Tidak semua orang menguasai musik gereja, yang merupakan salah satu disiplin ilmu. Hal inilah yang menyebabkan kebanyakan orang merasa kesulitan ketika diperhadapkan dengan masalah musikal yang harus diselesaikan.
  •   Kurangnya pendidikan/pemahaman liturgis, sering manjadikan musik gereja tidak bisa berjalan harmonis dengan liturgi gereja .
  •   Masih jarang gereja mengangkat topik-topik mengenai seni bermusik, sungguh sangat disayangkan, mengingat musik gereja adalah karya seni.
  •   Kurangnya kepedulian gereja untuk mempelajari sejarah musik gereja, sebagai unsur yang sangat penting, untuk menghilangkan kebingungan dalam pembagian musik gereja ke dalam bidang-bidang kategorial.
  •  Kompleksitas pembelajaran music gereja seringkali didefinisikan dalam istilah-istilah yang sempit. Oleh sebab itu teori music harus lebih ditekankan, agar dapat lebih memahami aktivitas musik secara menyeluruh dan mendalam.
  1.  Fungsi Musik Gereja :

Musik gereja dan nyanyian jemaat menjadi salah satu alat untuk menghantarkan umat menyadari tugasnya sebagai orang beriman dalam 3 hal, yaitu :

  •   Koinonia ~ adalah tugas untuk bersekutu, saling memperhatikan dan berkumpul untuk memuji Tuhan dalam kehidupan bersama.
  •   Marturia ~ adalah tugas dimana seorang Kristen harus memberitakan (menjadi saksi) kebaikan Tuhan, dimana hal ini juga harus menjadi pesan dari nyanyian jemaat
  •   Diakonia ~ adalah tugas dalam saling melayani satu dengan yang lain, kepada sesame secara universal.

 

Kesimpulan :

Musik adalah sebuah elemen penting yang mendapat perhatian khusus dalam liturgi gereja.

Perayaan liturgi gereja dalam sejarahnya menjadi lebih agung dan khidmat dengan adanya musik. Komunikasi iman dihadirkan lewat musik, baik melalui nyanyian maupun melalui iringan musik.

Kekuatan musik untuk menciptakan suasana agung dan khidmat dirasakan dan dialami sepanjang sejarah gereja.

Sebagai musik yang sejatinya memiliki bobot sakral dalam liturgi, musik gerejawi harus terus dipelihara dan dikembangkan untuk memuliakan Allah dan menguduskan manusia.

Dirangkum dari beberapa sumber tentang seni musik, yang merupakan ulasan dari Wilson S.MG.

 

BAB II

MAZMUR DALAM IBADAH

 

    1. Penggunaan Mazmur Dalam Ibadah

Penggunaan kitab mazmur sebagai buku nyanyian telah dikenal sejak lama sampai kini. Menyanyikan mazmur dipandang sangat penting dalam ibadah, seperti ungkapan beberapa tokoh gereja.

  • Athanasius (295-375M)

Dalam kitab mazmur Anda belajar tentang diri Anda sendiri. Di dalamnya kita membaca ucapan-ucapan orang kudus dan orang lain yang menulisnya. Namun, dengan menyanyikannya pembaca menaruh fi lidahnya setiap perkataan itu seolah-olah perkataan mereka sendiri.

  • Basil (339-379M)

Kitab-kitab para nabi taurat-taurat dan sejarah mengajarkan berbagai hal. Amsal memberikan nasehat, namun mazmur melebihi semua itu. Melaluinya, Roh kudus mencampur keindahan melodi dengan doktrin.

  • Ambrose (229-297M)

Para rasul meminta para perempuan untuk berdiam diri di Gereja, namun mereka dapat turut menyanyikan mazmur. Maka mazmur menjadi berkat bagi semua orang. Ketika mazmur dinyanyikan tidak ada kegadugan. Karena tiap orang ikut menyanyikan bagian respons-nya. Mazmur juga dinyanyikan dirumah dan diluar gereja. Ia dipelajari dengan penuh semangat.

  • Jhon C Rysostom (347-407M)

Mazmur itu menyenangkan, berguna kudus dan merupakan dasar dari segala filosofi. Karena syairnya membersihkan jiwa orang yang menyanyikan lagu-lagu ini.

  • Cassiodorus (485-580M)

Mazmur membuat ibadah paskah subuh kita menyenangkan, ketika dalam keheningan malam paduan suara menyanyikannya. Ketika menyanyikan dengan memahami syairnya ia mengarahkan kita pada hal-hal sorgawi.

  • Martin Lauther (1483-1549)

Kitab mazmur dapat di sebut “Alkitab kecil” karena berisi semua ajaran di Alkitab dalam bentuk pendek dan indah. Sehingga mereka yg tidak dapat membacanya , dapat menghafalnya. Diatas segalanya, kata-kata ini dipakai orang kudus untuk menyapa Tuhan. Mereka berbicara pada Tuhan dengan dua kali lebih kuat dan jujur dari pada memakai kata-kata mereka sendiri.

  • Jhon Calvin (1509-1564)

“ Kitab mazmur adalah Anatomi dari seluruh bagian jiwa manusia,” sebab tidak ada satu emosipun yang tidak direpresentasikan di dalamnya, seperti layaknya sebuah cermin. Tidak ada buku lain manapun yang seperti itu, yang mampu mengajarkan pada kita cara yang benar memuji Tuhan.

Kitab mazmur dapat digunakan sebagai atau dasar pemberitaan firman. Namun, ia dapat pula dipakai untuk berdoa atau menyamoaikan isi hati umat dihadapan Tuhan. Jhon D. Weitvielt dalam The biblical psalms in Christian Worship menyatakan bahwa umat dapat mendekati Mazmur dalam 3 pola:

Praying ---------- Meditating --------- Wrestling

(Berdoa)            (Merenung)              (Bergumul)

Dalam pola berdoa (praying), umat diajak menggunakanMazmur untuk berdoa. Cara paling efektif dan lazim untuk memakai Mazmur sebagai berdoa adalah dengan menyanyikannya. Dalam pola merenung (meditating), umat diajak merenungkan makna syair Mazmur sambil menikmati keindahannya. Cara yang efektif untuk merenung adalah menyanyikan syair Mazmur secara bertanggapan antara cantor dengan umat.

Dalam pola bergumul (wrestling), umat diajak untuk mengrti teks-teks Mazmur, khususnya yg sulit dipahami dan membutuhkan penjelasan lebih mendalam.

Pemakaian Mazmur dalam leksionari, menempatkan Mazmur dalam nyanyian respon terhadap bacaan pertama. Dalam konteks ini, pola berdoa dan merenung tepat untuk dipakai.

1. Berbagai Cara Menyanyikan Mazmur

  • Responsorial

Teks Mazmur dinyanyikan secara berbalasan antara pemimpin (cantor) denganumat. Cantor menyanyikan bait-bait Mazmur secara berbalasan dengan umut.

  • Mendaras (chanting)

Cara ini lazim dipakai di Gereja Khatolik di Roma. Syair Mazmur diberi tanda notasi yang biasanya terdiri dari 4 atau 8 nada, kemudian dinyanyikan secara berbalasan antara cantor dengan umat sesuai dengan pola nada tersebut. Kelebihan dari mendaras adalah kita tidak perlu mengubah teks Mazmur. Damun demikian cara ini kurang lazim di GKI.

  • Metrical (Metrikal Psalm)

Cara ini dikembangkan di zaman Calvin. Syair Mazmur dirubah menjadi puisi bermetrik. Puisi bermetrik ini kemudian diberi melodi sehimhha dapat dinyanyikan oleh umat. Dengan mengubah syair mazmur menjadi sanjak metrical, umat dapat menyanyikan  seluruh Mazmur dengan relative mudah karena memakai pola nyanyian hymne biasa yang berbait-bait.

  • Metrikal-Responsorial

Dengan cara menyanyi Metrikal responsorial, baik canor maupun umat tidak mendaraskan Mazmur, juga tidak membacakannya. Teks mazmur dibuat bermetrik namun di beri refrain.

  • Choral.

Interpretasi Mazmur berbentuk choral umumnya lebih kaya, karena memungkinkan konponis menggunakakan aransemen music secara optimal dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi, untuk menghidupkan syair mazmur ini ditujukan untuk dinyanyikan oleh sekelompok orang yang terlatih.

 

BAB III

Kiat Memilih Nyanyian Untuk Jemaat

 

Setiap nyanyian memiliki pesan khusus yang disebut tema. Pesan itu terungkap di dalam lirik atau syairnya. Nyanyian-nyanyian ibadah kita juga memiliki tema tertentu. Kita harus pandai menangkap maksud/pesan yang ingin disampaikan oleh sebuah nyanyian, agar dapat menempatkannya pada tempat yang tepat dalam susunan ibadah kita.

Dalalm ibadah kita ada nyanyian yang bersifat tetap (disebut: ordinarium), sehingga tidak perlu dicarikan penggantinya, kecuali dalam acara-acara khusus. Contohnya: NKB 228: Amin (3x), sesudah pengucapan votum dan salam; NKB 222: Haleluya (biasa diganti dengan maranata atau hosiana sesuai kalender Gereja). Sesudah pembacaan Alkitab; NKB 225: Haleluya! Amin!, sesudah pengucapan berkat.

Disamping ordinarium, ada sejumlah nyanyian yang selalu berubah dan berbeda dinyanyikan setiap minggunya (disebut: proprium). Tergantung dengan situasi dan suasana yang sedang dialami Gereja.

Berikut ini adalah kiat-kiat yang dapat menolong kita memilih nyanyian proprium untuk ibada. Sesuai namanya, proprium (proper tepat) memang harus di tempatkan secara tepat didalam susunan ibadah kita.

  • Pada bagian awal biasanya ada nyanyian yg diangkat entah oleh jemaat/paduan suara/kelompok vocal/instrumental. Nyanyian ini memiliki fungsi khusus, yaitu mengajak umat untuk memasuki ibadah. Karena itu, semua nyanyian yang mengandung tema ini dapat dipakai. Contohnya KJ 1-22 dan NKB 1-8 yang mengajak umat untuk menghadap Allah.
  • Nyanyian berikutnya biasanya ditempatkan sesudah pembacaan Nas Pembimbing. Nyanyian ini dapat dicarikan lagu dari yang syairnya selaras dengan isi Nas Pembimbing itu, atau sesuai tema pemberitaan firman, atau sesuai tahun liturgy yang dirayakan.
  • Doa pengakuan dosa biasanya diikuti oleh nyanyian yang isinya mengaminkan isi doa tadi, atau bersifat penyesalan dosa umat atas dosanya. Pilihan yang tepat dipertimbangkan adalah KJ 23-48 dan NKB 9-14.
  • Sesudah brita anugrah disampaikan, ada nyanyian jemaat yang syairnya mengandung tekad, janji atau kesedian diri untuk menjalani hidup sebagai umat tebusan Allah. Pilihan yang  ditepat dipertimbangkan adalah KJ 23-48 dan NKB 15-31.
  • Dalam liturgy minggu GKI yang baru, pembacaan Alkitab dilakukkan menurut leksionari. Ada empat bagian Alkitab yang dibaca dalam ibadah Minggu, satu diantaranya adalah Mazmur. Ada beberapa cara membacakan Mazmur dalam ibadah yang dapat diterapkan secara bergantian, agar suasana ibadah jadi lebih menarik.
      1. Membaca secara bergantian (responsoris). Antara pembaca (lektor) dengan jemaat. Ini cara yang paling lazim dan mudah dilakukan bagi kebanyakan gereja.
      2. Menyanyikan dengan mengambil dari buku Mazmur terbiitan Yambuger (150 buah nyanyian mazmur jenewa). Sedikit catatan: Mazmur jenewa adalah kumpulan nyanyian ibadah yang disusun oleh Calvin dan kawan-kawannya. Gaya nyanyian ini berasal dari eropa barat di abad ke-16, yang bagi banyak orang sekarang dirasakan sudah terlalu kuno. Padahal jika kita mau melatih dan menyiapkan diri dengan baik, mazmur Jenewa dapat terdengar indah sekali. Cara menyanyikan mazmur yang baru adalah dengan menggunakan ciptaan yang baru karya para pencipta konteporer. Ada koleksi lagu lagu mazmur responsoris  dimana jemaat dapat menyanyikan refrainnya dengan cepat dan mudah. Disini peran paduan suara sangat penting untuk member contoh dan mendukung  supaya mazmur dapat dinyanyikan oleh seluruh jemaat.
      3. Mendaraskannya seperti umat islam membaca ayat-ayat Quran. Cara ini masih belum lazim bagi banyak gereja di Indonesia, namun cukup luas dikenal dan dipakai oleh gereja yang berlatarbelakang ortodoks. Sedikit catatan: mendaraskan mazmur bagi banyak Gereja di Indonesia tampaknya masih membutuhkan waktu yang lama untuk dapat mengenal dan mempraktikannya.
  • Nyanyian jemaat berikutnya adalah waktu persembahan dikumpulkan. Tema yang sesuai ialah yang berhubungan dengan persembahan umat. Contohnya: KJ 286-303; KJ 361-376; KJ 439, 441, 444, 450 dan NKB 132-135, 177, 178, 181, 182,183 dsb.
  • Nyanyian terakhir biasanya dinyanyikan menjelang berkat. Nyanyian ini bersifat mengutus umat untuk kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Oleh sebab itu, nyanyian terakhir ini harus bersifat mendorong, memberi semangat, membaharui tekad dan komitmen sebagai umat Allah yang masih harus berjuang di dalam dunia. Atau yang berisi janji dan penyertaan tuhan dalam hidup umat-Nya. Pilihan yang tersedia antara lain: KJ 338-344, 345-350, 351-417 dan NKB 176-219 dsb.
  • Jika setiap minggu kita hanya memilih nyanyian dari antara pilihan yang di usulkan di atas bagaimana dengan nyanyian yg lain? Perlu diingat juga tahun liturgy yang dialami. Apakah kita dalam masa pra-paskah atau pentakosta, atau adven ? Lihatlah daftar isi kidung jemaat (tanpa nomer halaman) yang membagi seluruh nyanyian menurut tema atau rubric masing-masing (dibagian depan). Atau liatlah petunjuk penggunaan nyanyian pada bagian belakang kidung jemaat (tanpa nomer halaman). Pilihlah nyanyian yang tepat dengan mempertimbangkan tahun liturgy, tema yang sedang dipergumulkan atau persoalan yang actual.
  • Jangan asal memilih nyanyian renungkan dan hayati duli isi syair dari setiap nyanyian  yang hendak dinyanyiakan itu ditempatkan dalam liturgy.
  • Karenna nyanyian jemaat kita kebanyakan dalam bentuk hymn (syair yang ditujukan untuk Tuhan), maka sebaiknya nyanyian dalam ibadah tidak dinyanyikan dengan melompat-lompat (missal bait 1, 4, dan 6). Sedapat-dapatnya jemaat menyanyikan seluruh bait yang ada. Jika baitnya terlalu banyak maka menyanyikannya dapat diubah, missal: bait 1 dinyanyikan oleh  jemaat saja, bait ke dua dinyanyikan kaum wanita saja, bait ketiga dinyanyikan oleh jemaat saja, bait ke empat dinyanyikan kaum pria saja dan bait ke lima kembali dinyanyikan oleh seluruh jemaat. Cara yang lain, bait-bait yang banyak dapat pula dinyanyikan bergantian oleh pemandu, solo, jemaat, perempuam, laki-laki dan sebagainya.

BAB V

Panduan Mengiring Nyanyian Jemaat

Peranan musik dalam mengiringi nyanyian ibadah sangat penting untuk membangun suasana ibadah. Namun iringan musik dapat pula merusak suasana ibadah bila tidak disiapkan dengan baik. Pemain musik perlu memiliki kempetensi memadai, serta kemampuan untuk menyelaraskan permainannya dengan umat yang sedang bernyanyi.

  1. Unsur-unsur Pembentuk Pola Iringan Nyanyian Jemaat
    1. Tempo

Tempo adalah cepat lambatnya sebuah lagu dinyanyikan. Tempo nyanyian Jemaat tidak ditentukan oleh pemain musik, pemandu nyanyian, atau Jemaat, melainkan oleh lagu itu sendiri. Karena itu baik poemusik maupun pemandu harus memahami lebih dulu lagu-lagu yang akan dinyanyikan, sehingga keindahan dan kemegahannya dapat ditampilkan dengan baik.

  1. Nafas & frasering

Jantung dari musik adalah pernafasan. Hal ini berhubungan erat dengan pengalimatan (frasering) dan member kesempatan kepada Jemaat untuk mengambil nafas diakhir tiap kalimat. Jika pengiring tidak member kesempatan untuk mengambil nafas saat menyanyi, umat menjadi terengah-engah dan lagu terserbut menjadi monoton. Pesan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan baik.

  1. Tonalitas & modalitas

Tonalitas adalah nada dasar dari tiap lagu. Beberapa ahli menyatakan bahwa tonalitas berhubungan dengan tanda kunci maupun tangga nada. Tonalitas adalah aspek musik yang meliputi nada, tanda birama, tanda diam, dan ornamen lainya yang dikelilingi sebuah nada tonik yang menjadi nada tumpunya. Dinamakan nada tumpu karena nada ini merupakan nada yang menjadi acuan atau awal penyusunan nada-nada lain dari sebuah tangga nada.Tangga nada terbagi 2 yaitu Mayor dan Minor. Tangga nada Mayor memiliki finalis (nada akhir) “do”, sedangkan tangga nada Minor memiliki finalis “la”. Contoh:

    • Tangga Nada Mayor
  1. ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4 ( ) 5 ( ) 6 ( ) 7 ( ) 1>

Jarak : 1 1 ½ 1 1 1 ½

    • Tangga Nada Minor
      • Minor asli
  1. ( ) 7< ( ) 1 ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4 ( ) 5 ( ) 6 ( ) 5 ( ) 4 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 7< ( ) 6<

Jarak : 1 ½ 1 1 ½ 1 1 1 1 ½ 1 1 ½ 1

 

      • Minor harmonis
  1. ( ) 7< ( ) 1 ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4 ( ) 5/ ( ) 6 ( ) 5/ ( ) 4 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 7< ( ) 6<

Jarak : 1 ½ 1 1 ½ 1½ ½ ½ 1½ ½ 1 1 ½ 1

 

      • Minor melodis
  1. ( ) 7< ( ) 1 ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4/ ( ) 5/ ( ) 6 ( ) 5 ( ) 4 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 7< ( ) 6<

Jarak : 1 ½ 1 1 1 1 ½ 1 1 ½ 1 1 ½ 1

 

Disamping kedua jenis tangga nada tersebut, kita juga mengenal modalitas, yaitu rumusan modus tertentu. Misalnya tangga nada pentatonis serta tangga nada gereja.

    1. Akord dan melodi

Ada partitur nyanyian jemaat yang telah dilengkapi dengan akord. Partitur not balok biasanya menyertakan akord berikut bentuk pola iringan tertentu. Hal ini memudahkan pemain untuk dapat mengiringi nyanyian sesuai dengan keinginan penciptanya.

Melodi (dari Yunani μελῳδία - melōidía, bernyanyi, berteriak[1]) atau disebut juga suara adalah suksesi linear nada musik yang dianggap sebagai satu kesatuan. Dalam arti yang paling harfiah, melodi adalah urutan nada dan jangka waktu nada, sementara, dalam arti lain, istilah tersebut memasukkan suksesi unsur musik lain seperti warna nada.

Melodi sering terdiri dari satu atau lebih frasa musik atau motif, dan biasanya diulang-ulang dalam lagu dalam berbagai bentuk. Melodi juga dapat digambarkan oleh gerak melodis mereka atau nada atau interval (terutama yg diperbantukan atau terpisah-pisah atau dengan pembatasan lebih lanjut), rentang pitch, dan melepaskan ketegangan, kontinuitas dan koherensi, irama, dan bentuk.

(sumber : Wikipedia)

  1. Mengiringi Umat Bernyanyi
    1. Intro

adalah cara untuk memperkenalkan lagu, tinggi nada, tempo dan karakter lagu supaya umat dapat menyanyikan lagu tersebut dengan tinggi nada dan tempo yang sama. Intro juga berfungsi untuk menentukan kapan umat mulai menyanyi.

    1. Interludium

adalah jembatan yang menghubungkan antara bait yang satu dengan yang lainnya. Bentuk interludium barmacam-macam. Bisa berupa pengulangan dua bar pada bagian akhir lagu, bisa juga berbentuk rangkaian nada dan akord tertentu.

    1. Preludium

adalah permainan musik sebelum ibadah dimulai. Preludium mengantartkan umat mempersiapkan diri beribadah dengan doa dan saat teduh. Tentu dalam saat teduh tersebut, umat memerlukan keheningan dan ketenangan, itulah sebabnya musik yang dimainkan hendaknya bersifat tenang dan meditatif.

    1. Postludium

adalah permainan musik diakhir nyanyian jemaat atau akhir ibadah. Sebaiknya dimainkan lagu pengutusan atau lagu yang gegap gempita untuk mengantar umat kembali kedalam hidup sehari-hari dan menjadi saksi Kristus didalam dunia.

  1. Mengiringi Dengan Lebih dari Satu Alat Musik
    1. Pengaturan volume instrumen
    2. Penyelarasan nada pada alat musik