Katekisasi Calon Sidi: Alkitab Sebagai Penyataan Allah

Bahan Katekisasi Calon Sidi, Kamis, 23 Maret 2017

 

ALKITAB SEBAGAI PENYATAAN ALLAH

I. PENGILHAMAN DAN PENULISAN ALKITAB

Kita meyakini bahwa Alkitab terjadi karena pengilhaman Tuhan sendiri [(2 Timotius 3: 16)]. Hanya saja bukan pengilhaman yang mekanis [manusia seperti mesin yang tinggal menampung kata-kata dari Allah], tetapi pengilhaman organis [secara dinamis para penulis Alkitab mengungkapkan penghayatan imannya sesuai dengan konteks hidup mereka, yang meliputi a.l.: kebudayaan, gaya bahasa, tingkat ilmu pengetahuan]. Umumnya nabi-nabi tidak menulis sendiri, mereka menyampaikan langsung kepada umat. Murid-murid nabi-nabilah yang menghimpun nubuat-nubuat dan menuliskannya. Ini berarti terdapat banyak penulis Alkitab. Kebanyakan dari mereka itu tidak dapat kita ketahui.

Oleh karena itu seringkali Alkitab juga dipahami ssebagai kesaksian atas firman Tuhan. Istilah "kesaksian" berasal dari kata "saksi". Istilah ini dipinjam dari dunia pengadilan. Saksi ialah orang yang melihat sesuatu terlebih dulu dan meminta orang lain supaya melihat apa yang telah dilihatnya. Para penulis Alkitab, melalui tulisan mereka bersaksi tentang Allah yang mereka kenal. Allah menyatakan diri dari ketersembunyian-Nya. Penyataan Allah itu berpusat dalam Yesus Kiistus yang membebaskan semua ciptaan dari kuasa dosa. (Penyataan = tindakan yang membuat sesuatu menjadi nyata)

Sehingga supaya kita dapat menemukan makna Firman itu kita harus berusaha "menguliti" atau "mengupas" bacaan itu. Usaha "menguliti" atau "mengupas" adalah usaha menafsirkan. Sebab bagi kita perkataan tersebut tidak semua jelas karena kita hidup di jaman yang berbeda, ada jarak yang begitu jauh antara kita dan para penulis itu.

Semula naskah-naskah itu tersebar luas sesuai dengan alamat pengiriman masing-masing. Surat Paulus kepada jemaat Galatia, Korintus, dan kepada Timotius misalnya, disimpan oleh jemaat di tempat-tempat itu. Lalu naskah yang tersebar itu berangsur-angsur dihimpun dan akhirnya PL dan PB mencapai bentuknya yang sekarang. Dengan demikian jelas bahwa Alkitab tidak merupakan "barang jadi" yang turun dari langit karena firman itu disampaikan melalui proses dalam sejarah yang memakan waktu ribuan tahun.

II. TERJADINYA KANON ALKITAB

Terbentuknya Alkitab dalam bentuknya sekarang ini memakan waktu sekitar sebelas abad (1100 tahun). Dalam rentang waktu yang panjang itu terjadilah proses pembentukan kanon. Istilah "kanon" berasal dari bahasa Semit "qaneh" yang berarti alat pengukur (lihat Yeh. 40:3). Ki­tab-kitab kanonik (kata sifat dari kanon) berarti kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah, diilhamkan oleh Roh Kudus, berwibawa sebagai ukuran atau patokan iman dan kehidupan. Setelah proses itu selesai, Alkitab itu kanonik dan sekaligus menjadi kanon. Bagian-bagian  Alkitab tidak ditulis sekaligus. Setelah melewati berabad-abad barulah kumpulan kitab-kitab itu diselesaikan, dan kemudian ditetapkan sebagai bagian dari Kitab Suci. Bagian-bagian dari Alkitab itu ditulis oleh orang-orang-orang yang diilhami (2 Timotius 3: 16). Allah memenuhi mereka dengan Roh Kudus (bandingkan 2 Petrus 1: 21) untuk dapat memahami dan menyampaikan secara tepat berita keselamatan Allah untuk manusia, yang hidup di segala zaman. Mereka menulis berita dari Allah itu dengan gaya bahasa dan ungkapan yang sesuai dengan adat, kebiasaan, dan zaman mereka masing-masing. Itulah sebabnya kata-kata, istilah-istilah, susunan kalimat dan latar belakang sejarah berbeda antara kitab yang satu dengan kitab lainnya.

Disamping itu dalam penulisan tiap-tiap buku juga dimanfaatkan sumber-sumber yang lebih tua dan tradisi lama. Dalam Alkitab ditemukan nama beberapa sumber tersebut, antara lain: “Kitab Peperangan Tuhan” (Bilangan 21: 14), “Kitab Orang Jujur” (Yosua 10: 13), 2 Samuel 1: 18), “Kitab Riwayat Salomo” (I Raja 11: 41), “Kitab Raja-raja Israel” (I Raja 14: 19), “Kitab Sejarah Raja-raja Yehuda” ( I Raja 14: 29), “Tafsiran Kitab Raja-raja” (2 Tawarikh 24: 24: 27), “Riwayat Nabi Natan”, “Nubuat Ahia”, “Penglihatan-penglihatan Nabi Ido” (2 Tawarikh 9: 29), “Kitab Sejarah nabi Ido” (2 Tawarikh 13: 22)

Proses terjadinya Perjanjian Lama?

Inti iman dalam Perjanjian Lama adalah iman Israel kepada Yahweh. Penghayatan iman Israel bukan mengambang, teoretis, tetapi nyata. Mereka sangat menghayati penyertaan dan campur tangan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Iman mereka diuji ketika di padang gurun menghadapi berbagai bahaya (panas, dingin, kekurangan air dan makanan, dihadang musuh, dll.) Dari iman yang dihayati ini, mereka kemudian menceritakan kepada anak cucu mereka. Dari tradisi lisan/ cerita ini beberapa orang mulai membuat catatan dan menuliskannya. Di sinilah proses penulisan terjadi. Bahasa Ibrani dan bahasa Aram (Ibrani moderen) yang dipakai di PL

Proses terjadinya Perjanjian Baru?

Inti Perjanjian Baru adalah iman kepada Yesus Kristus yang bangkit dari kematian. Setelah peristiwa kenaikan Yesus ke sorga, maka pemberitaan tentang ajaranNya dilanjutkan oleh para muridNya. Disamping itu di masyarakat telah terbentuk kelompok-kelompok jemaat yang menerima pemberitaan dari para murid. Di antara para murid dan orang-orang yang dekat dengan Yesus menuliskan pokok-pokok ajaran, nasehat, hidup dan karya Yesus, atau semacam riwayat hidup Yesus. Maka terbentuklah injil-injil. (baca Lukas 1: 1,3). Sedangkan pada bagian lainnya banyak isi kitab suci yang berbentuk surat. Hal itu semula dimaksudkan untuk membina hubungan antar umat percaya.

Catatan: Untuk memahami lebih dalam tentang terjadinya Alkitab [kanonisasi] diperlukan waktu tersendiri.

Benda yang dipakai untuk menulis Alkitab

Pada jaman dahulu manusia mempunyai kebiasaan membuat tulisan atau tanda pada gua-gua di sekitar tempat tinggalnya. Ada pula yang membuat tulisan atau gambar di tanah liat juga ada yang membuat tulisan dengan lempengan logam. Cuma, logam itu berat dan sulit dibawa kemana-mana. Benda yang paling banyak dipakai adalah  papirus, sejenis tanaman pandan air yang dianyam seperti bagor kemudian dihaluskan. Tahun 3500 se.M di Mesir sudah dikenal papirus. Hanya saja, papirus mudah rusak. Oleh karena itu ada bahan lain yang awet, yaitu kulit binatang, disebut perkamen atau vellum. Bahan inilah yang banyak dipakai sebelum ditemukan kertas.

III. PENGGOLONGAN KITAB-KITAB

Alkitab dibedakan dalam dua bagian besar, yakni PL dan PB. Baik pada zaman PL maupun PB Allah bertindak dalam sejarah melalui manusia. Mula-mula melalui Israel kepada semua bangsa dan selanjutnya melalui umat percaya baik sebelum maupun sesudah diorganisasikan sebagai gereja. Dari segi isinya, PL menunjuk kepada kedatangan Mesias dan PB menyaksikan Mesias yang datang dan pekerjaan-Nya melalui rasul-rasul dan jemaat.

Perjanjian Lama

    1. Kitab Taurat (Kejadian-Ulangan)
    2. Kitab Sejarah (Yosua- Ezra-Nehemia)
    3. Kitab Puitis/ Hikmat (Ayub- Kidung Agung)
    4. Kitab nabi-nabi (Yesaya-Maleakhi)

Perjanjian Baru

    1. Injil (Matius- Yohanes)
    2. Kisah rasul
    3. Surat-surat
    4. Wahyu

IV. Pertanyaan

  1. Kita memegang teori pengilhaman organis dalam hal terjadinya Alkitab. Apa artinya? Apa bedanya teori tersebut dengan teori pengil­haman mekanis?
  2. Apakah kanon Alkitab itu? Bagaimana terjadinya? Kewibawaan siapa yang berlaku dalam terjadinya kanon itu? Jelaskan!
  3. Jelaskan bagaimana kitab PL dan PB digolongkan!
  4. Apa artinya Alkitab bagi kehidupan Saudara? Jelaskan dan berilah beberapa contoh dari pengalaman!

------------------------------------------