KPT_Pokja Katekisasi: Katekisasi Calon Sidi

Materi Katekisasi Calon Sidi, Kamis 30 Maret 2017; Kewibawaan Alkitab

 

5. KEWIBAWAAN ALKITAB

Alkitab memiliki kewibawaan yang mutlak, yaitu:

  1. Sebagai satu-satunya sumber yang benar bagi orang percaya untuk mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan karya penyelamatan Allah atas manusia. Melalui Firman Allah di dalam Alkitab yang senantiasa diberitakan akan terjadi terus menerus peristiwa penyelamatan Allah ke atas manusia.
  2. Menjadi dasar dan pedoman bagi orang-orang percaya dalam menjalani hidupnya di tengah-tengah dunia dengan berbagai tantangannya. Kita menghayati bahwa Allah turut bekerja secara aktif sebagai Roh Kudus di dalam hati orang yang membaca atau mendengar berita penyelamatan Allah atas manusia yang ditulis di dalam Alkitab. Allah menolong setiap orang untuk dapat mengerti, memahami dan kemudian percaya, serta menerima penyelamatan Allah. Perhatikan Luk.4:17-21; band.Kis.10:44-48.
  3. Kewibawaan Alkitab itu dikukuhkan Roh Kudus dalam batin (hati) kita. Kewibawaan Alkitab tidak ditentukan atau tidak tergantung oleh pengakuan gereja. Jadi, sumber kewibawaan itu ialah Allah sendiri. Bukan gereja. Orang yang tidak beriman pun dapat membaca Alkitab, misalnya untuk menyerang agama Kristen. Tetapi bagi mereka Alkitab itu tidak berwibawa, tidak lebih sekadar tulisan yang mati. Hanya karena karya Roh Kudus orang percaya mengakui bahwa Tuhan berbicara {berdialog) melalui Alkita[. "Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, dan terang bagi jalanku" (Mzm. 119:105]. Keyakinan itu tidak memerlukan pembuktian akal (nalar). Soal pengetahuan tentang Alkitab misalnya, hal itu menjadi nomor dua sesudah keyakinan.

Catatan:

  • Dengan adanya Alkitab, orang percaya terpelihara iman dan keselamatannya. Perhatikan Yoh.2:22; Rm.15:4; 2Tim.3:15; 1Tes.1:8-9
  • Namun orang yang membaca atau mendengar berita penyelamatan Allah dalam Alkitab belum tentu menerima penyelamatan Allah. Sebab Roh Kudus yang bekerja dalam hati manusia adalah untuk menolong dan bukan memaksa. Itu berarti bahwa Roh Kudus tidak hendak merampas kebebasan manusia untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri, yaitu untuk menerima atau menolak penyelamatan Allah ( Kis.7:51-53).
  • Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah, ibarat anyaman sebuah tikar pandan. Karena kedua perjanjian itu berhubungan dengan karya penyelematan Allah atas manusia. PL berisikan firman Allah yang berhubungan dengan janji dan karya penyelamatan Allah kepada manusia melalui perjalanan kehidupan bangsa Israel sampai dengan janji akan datangnya Mesias, sementara PB berisikan firman Allah  yang memenuhi janji melalui kedatangan Mesias (Yesus Kristus), sejak kedatangan Tuhan Yesus Kristus sampai tercapainya pemenuhan keselamatan yang sempurna (Kis.2:14-36; 7:1-53; 2Tim.3:15-17).

2. Bacaan untuk didiskusikan, Kisah Rasul 8: 26- 40

---------------------------------