Senin 1 Mei 2017
Bacaan: Kejadian 18 : 1-14 | Nyanyian: KJ 437: 5,6.
“Biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya.” (ayat 5)
UPAH KETULUSAN
Mungkin kita pernah melihat tayangan reality show di sebuah telivisi swasta beberapa bulan yang lalu. Judul reality show itu adalah “Minta tolong”. Seorang yang berakting dan berpura-pura butuh bantuan dan pertolongan, lalu menguji orang di sekitarnya. Jika orang itu mau menolong dengan tulus, maka pihak produser menyediakan hadiah akibat ketulusannya. Acara ini adalah sebuah acara yang menarik dan menyedot sponsor iklan cukup banyak sehingga tayang di “prime time” saat itu.
Namun belajar dari acara itu, ternyata mencari orang yang mau berbuat baik dan menolong sesama itu tidaklah mudah. Setidaknya setiap adegan menceritakan bahwa mendapatkan pertolongan dengan tulus itu tidaklah mudah. Ada saja yang bersikap cuek, tidak peduli dan bahkan menghindar saat dimintai pertolongan. Rasanya seperti itulah kehidupan manusia di jaman sekarang. Banyak orang yang hanya mau menolong karena sudah mengenal siapakah yang harus ditolong, atau bahkan berpikir apakah ada keuntungan atas pertolongan yang diberikan. Jika tidak kenal atau bahkan tidak ada manfaatnya, maka tidak akan ada pertolongan yang muncul.
Abraham dan Sara memiliki pengalaman yang cukup menarik, saat dengan tulus mereka mau menyediakan hidangan sepotong roti untuk tiga orang tamu yang sebenarnya tak dikenalinya. Tidak ada niat apapun selain hanya ingin berbuat baik dan tulus dalam hal menolong sesama. Ini terbukti, dengan perkataannya, “...supaya tuan segar kembali, kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanan”. Tidak ada tanda bahwa apa yang dilakukan itu untuk mengharapkan imbalan. Abraham melakukannya dengan tulus.
Buah yang diterima adalah sesuatu hal yang menjadi harapan Sara pada akhirnya terkabul. Inilah buah dari perbuatan baik yang disertai ketulusan. Ada banyak hal yang tidak kita duga akan bisa kita dapatkan saat kita melakukan perbuatan baik dengan tulus. Jika hal baik itu tidak kita dapatkan segera, maka waktunya akan tiba, dan tetap saja kita akan merasakan manisnya buah perbuatan baik yang kita lakukan dengan ketulusan. [Oka]
“Memberi dengan sukacita, membukakan pintu anugerah Tuhan.”
